Analisis Kemampuan Indonesia Memproduksi Udang dan Persaingan Ekspor di Pasar Internasional

  In-depth Analysis by: Puty Maharani | Copyrights Asian Scenarios

Abstrak

Esai ini membahas tentang produk perikanan yaitu udang yang menjadi andalan Indonesia dalam kegiatan ekspor di pasar internasional. Udang bisa menjadi produk unggulan karena faktor geografis Indonesia yang mempengaruhinya. Faktor tersebut membuat Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah sehingga bisa menjadi salah satu pengekspor udang terbesar di dunia. Dalam pasar internasional, juga ada negara yang menjadi saingan Indonesia dalam mengekspor udang seperti Ekuador, India, dan Vietnam. Salah satu negara yang menjadi tujuan dalam ekspor udang adalah Amerika Serikat. Esai ini juga akan membahas tentang masalah-masalah yang dihadapi Indonesia dalam mengekspor udang seperti persaingannya dengan negara lain, nilai jual yang turun, kemampuan dalam memenuhi kebutuhan negara lain, serta kebijakan yang dianggap dapat merugikan ekspor udang. Teori yang digunakan dalam esai ini adalah teori ekonomi neoklasik, konsep equilibrium, dan comparative advantage. Teori tersebut membahas tentang perdagangan bebas, stabilitas dan perubahan ekonomi, serta alasan suatu negara dapat merasakan manfaat dari perdagangan bebas dengan keunggulan yang dimilikinya. Selain itu, juga akan dijelaskan mengenai kritik terhadap teori yang digunakan.

Pendahuluan

Dengan kondisi geografis yang berbentuk kepulauan, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar di sektor perikanan. Sebesar 5,8 juta km2 luas wilayah lautnya yang dapat dikelola membuat sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia begitu beranekaragam (Kementerian PPN/ Bappenas, 2014). Salah satu hasil perikanan yang menjadi keunggulan adalah udang. Indonesia berada di urutan keempat setelah India, Ekuador, dan Vietnam sebagai negara pengekspor udang beku terbesar di dunia pada tahun 2018 (Widowati, 2019). Nilai jual udang beku Indonesia pada tahun tersebut mencapai US$ 1,3 miliar (Workman, 2019). Sedangkan India yang menjadi pengekspor udang beku terbesar memperoleh US$ 4,4 miliar di tahun yang sama (Workman, 2019). Nilai jual tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dibawah dibandingkan dengan negara pengekspor lain. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan adanya peningkatan nilai jual dua kali lipat sebesar 250%, yang awalnya US$ 1,3 miliar di tahun 2018 menjadi US$ 3,19 miliar di tahun 2024 (Nuraini, 2019).

Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor udang terbesar adalah Cina, Amerika Serikat, dan Jepang (Chandra, 2016). Cina mengimpor udang sekitar 400.000 ton per tahun, namun Indonesia hanya dapat memenuhi 2% dari kebutuhan tersebut dikarenakan permintaan yang spesifik (Manalu, 2019). Amerika Serikat dengan kebutuhan sekitar 700.000 ton per tahun, dapat dipenuhi 17,1% oleh Indonesia dan Jepang dengan kebutuhan sekitar 200.000 ton per tahun, dapat dipenuhi 16% dari total impor (Manalu, 2019). Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa Indonesia hanya dapat memenuhi sedikit dari kebutuhan udang di negara-negara pengimpor. Sedangkan negara pesaing seperti India dapat memenuhi 32,22% dari total kebutuhan impor udang di Amerika Serikat (Manalu, 2019). 

Di tahun 2019, terjadi penurunan harga jual udang di pasar global. Sebelumnya rata-rata harga udang di Amerika Serikat US$ 9,79 per kilogram, menjadi US$ 8,88 per kilogram pada kuartal I-2019 (Lidyana, 2019). Di Jepang sebelumnya harga jual udang US$ 10,93 per kilogram, juga turun menjadi US$ 10,23 per kilogram pada kuartal yang sama (Lidyana, 2019). Hal tersebut dapat disebabkan oleh persaingan yang ketat antara negara-negara pengekspor udang. Seperti Ekuador yang total produksinya mencapai 500.000 ton, dan India yang mulai membuka 5.000 ha tambak di Gujarat dan di tempat-tempat lainnya (Infoakuakultur, 2019). Faktor lain yang menyebabkan turunnya harga menurut Harli, Teknisi Tambak PT Maju Tambak Sumur adalah karena stok pasar Eropa dan kuota kontrak cold storage yang sudah terpenuhi, sehingga petani tambak mendapat tekanan harga untuk hasil produksi (Infoakuakultur, 2019). 

Pendekatan Teoritis

Gilpin mengatakan bahwa ekonomi neoklasik memandu ekonomi global dan aturan-aturan yang mengaturnya berdasarkan prinsip-prinsip pasar (Gilpin, 2001: 12). Tujuan utama dari pemerintahan internasional adalah adanya kebebasan pergerakan modal, perdagangan bebas, dan akses perusahaan multinasional ke pasar dunia menjadi tidak terbatas (Gilpin, 2001: 12). Ekonom disiplin ilmu ekonomi neoklasik mempercayai bahwa memberi manfaat bagi konsumen dan memanfaatkan sumber daya bumi secara maksimal dan efisien merupakan tujuan dari kegiatan ekonomi (Gilpin, 2001: 23). Yang menjadi masalah utama bagi ekonom neoklasik adalah bagaimana sumber daya yang langka dapat dialokasikan secara efisien (O’Brien and Williams, 2016: 23). Sumber daya yang tersedia begitu terbatas, tetapi keinginan yang dimiliki manusia sangat tidak terbatas (O’Brien and Williams, 2016: 23). Solusi dari masalah tersebut dapat ditemukan dalam kegiatan pasar dimana individu bisa melakukan pertukaran yang saling menguntungkan (O’Brien and Williams, 2016: 23).

Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar di dalam studi ekonomi politik adalah apakah tujuan dari aktifitas ekonomi yang dilakukan menguntungkan bagi konsumen individu?, apakah untuk mempromosikan kesejahteraan sosial tertentu?, ataupun agar dapat memaksimalkan kekuatan nasional? (Gilpin, 2001: 24). Tujuan yang dipilih oleh masyarakat nasional maupun internasional akan menentukan perekonomian melalui peran mekanisme pasar (Gilpin, 2001: 24). Menentukan alokasi sumber daya yang produktif melalui pasar atau mekanisme lainnya dapat diputuskan oleh masyarakat (Gilpin, 2001: 24). Proses politik menentukan peran pasar dan tujuan kegiatan ekonomi, yang pada akhirnya masyarakat mendelegasikan tanggung jawab kepada negara (Gilpin, 2001: 24). Tetapi, faktor pasar dan ekonomi memberikan batasan terhadap sikap yang dapat diambil oleh negara (Gilpin, 2001: 24). Karena pasar memilki logikanya sendiri dan dalam dunia kelangkaan pasar dapat menentukan pilihan atau tindakan yang diambilnya (Gilpin, 2001: 24).

O’Brien dan Williams mengatakan bahwa ekonomi neoklasik biasanya melihat bahwa pemerintah dan intervensinya tidak begitu efisien dalam ekonomi (O’Brien and Williams, 2016: 23). Peran mereka harus dibatasi sekecil mungkin, pemerintah hanya perlu menyediakan beberapa keperluan publik agar dapat memastikan pasar bebas berjalan dengan baik (O’Brien and Williams, 2016: 23). Ekonom neoklasik meyakini bahwa politisi tidak perlu campur tangan dalam pasar (Gilpin, 2001: 68). Pemerintah tidak boleh mengintervensi apalagi mempengaruhi hasil pasar, kecuali dalam kasus kegagalan pasar yang biasanya jarang terjadi (Gilpin, 2001: 68). Tetapi ekonomi Keynesian berpendapat bahwa pemerintah memiliki peran yang penting bagi ekonomi agar dapat berjalan dengan baik (O’Brien and Williams, 2016: 23). Pemerintah dapat menyediakan keperluan publik yang lebih luas dan untuk menggerakkan ekonomi dari penurunan memerlukan pengeluaran dari pemerintah (O’Brien and Williams, 2016: 23). Keynesian melihat bahwa pemerintah harus turun tangan apabila terjadi kegagalan investasi bisnis dalam pertumbuhan ekonomi (O’Brien and Williams, 2016: 23). Selain Keynesian, ekonomi kelembagaan juga memiliki pandangan yang luas dan lebih baik terhadap peran pemerintah (O’Brien and Williams, 2016: 24). Ahli ekonomi kelembagaan berpendapat bahwa pasar bukanlah suatu hal yang alami, tetapi terbentuk dari struktur hukum, nilai-nilai sosial, dan sistem keuangan yang merupakan rangkaian lembaga (O’Brien and Williams, 2016: 24).

Beberapa sarjana melakukan penelitian terhadap bagaimana ekonomi mempengaruhi politik dan bagaimana politik menyusun ekonomi (O’Brien and Williams, 2016: 24). Pada dasarnya, ekonomi politik merupakan usaha penggabungan ekonomi dan politik dalam ekonomi kelembagaan, atau menerapkan metode dan asumsi ekonomi neoklasik ke dalam studi politik (O’Brien and Williams, 2016: 25). Walaupun ekonom politik menganggap teori ekonomi neoklasik itu terbatas dan abstrak, mereka tetap menerima dan memanfaatkan teori ekonomi dalam mempelajari masalah-masalah yang spesifik (Gilpin, 2001: 74). Namun, pandangan ekonomi dan ekonomi politik terhadap peran pasar serta hubungannya dengan aspek lain dalam ekonomi berbeda secara signifikan (Gilpin, 2001: 74). Ekonom neoklasik meyakini bahwa pasar bersifat mandiri, dapat mengatur dan diatur oleh hukumnya sendiri (Gilpin, 2001: 74-75). Sedangkan ekonom politik berpendapat bahwa pasar berada dalam struktur sosial politik yang lebih besar dan dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi melalui lingkungan politik, sosial, dan budaya (Gilpin, 2001: 74-75).    

Ekonomi neoklasik terbatas dalam hal penerapannya terhadap pemahaman fungsi ekonomi dari waktu ke waktu, karena ekonomi neoklasik tidak mempertimbangkan geografi dan sejarah dalam menjelaskan ekonomi (Gilpin, 2001: 104). Dalam pertumbuhan ekonomi, biasanya teori ekonomi neoklasik mengabaikan adanya perubahan dalam politik, sosial, dan struktur ekonomi (Gilpin, 2001: 104). Pemahaman tentang peran kekuatan dalam evolusi ekonomi dapat dihambat oleh fokus disiplin equilibrium (Gilpin, 2001: 104). Analisis ekonomi neoklasik tidak memberikan penjelasan tentang sejarah ekonomi maupun sifatnya yang terus berkembang (Gilpin, 2001: 104). Padahal, hampir tidak mungkin memahami dinamika ekonomi dunia apabila tidak diiringi penjelasan mengenai sejarah proses pertumbuhan tersebut terhadap kekuatan dan kepentingan aktor-akor utama (Gilpin, 2001: 104). Kemudian, dalam perekonomian nasional, evolusi pola perdagangan, atau dalam pengembangan spasial, ekonomi neoklasik jarang memberikan pemahaman tentang distribusi geografis (Gilpin, 2001: 104). Walaupun ekonom neoklasik meyakini bahwa selama perilaku ekonomi sesuai dengan hukum comparative advantage, distribusi teritorial dari aktifitas ekonomi merupakan konsekuensi yang kecil (Gilpin, 2001: 104-105). Tetapi pertanyaan yang paling penting bagi kelompok, negara, hingga seluruh wilayah di dunia adalah negara mana yang menghasilkan keripik kentang atau perangkat komputer (Gilpin, 2001: 104-105). Salah satu permasalahan yang didebatkan dalam ekonomi dunia adalah distribusi geografis dari pembagian kerja (atau division of labour) internasional dan bagaimana organisasi spasial berubah seiring berjalannya waktu (Gilpin, 2001: 105).

Kritik lain terhadap ekonomi neoklasik yang pertama adalah tidak mementingkan diri sendiri (Nicolaides, 1988: 321). Dengan menyesuaikan fungsi utilitas yang mencangkup kesejahteraan banyak orang, perilaku tidak mementingkan diri sendiri seperti altruisme dapat dengan mudah masuk ke dalam analisis ekonomi (Nicolaides, 1988: 321). Di dalam teori, sebenarnya perilaku altruisme tidaklah menjadi masalah, namun dalam penerapannya sulit untuk memisahkan antara altruisme sejati dengan keegoisan menipu yang disamarkan sebagai altruisme (Nicolaides, 1988: 321). Ketika altruisme dipahami sebagai perilaku yang tidak dijelaskan oleh tujuan egois seperti kepuasan, status, pendapatan, dan keamanan, maka kesulitan dalam mengidentifikasi altruisme sejati dapat diperhitungkan (Nicolaides, 1988: 321). Yang kedua adalah informasi tidak sempurna dan ketidakpastian (Nicolaides, 1988: 321). Informasi yang tidak sempurna dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam membuat keputusan yang benar, dan ketidakpastian akan memperbesar kemungkinan pengambilan keputusan yang salah (Nicolaides, 1988: 321). Dalam kondisi tersebut, seseorang tidak akan mengetahui apakah tindakannya merupakan maksimalisasi dari hambatan yang dirasakan atau itu hanya kesalahan saja (Nicolaides, 1988: 321). Kritik yang ketiga adalah tidak maksimalisasi (Nicolaides, 1988: 321). Contoh dari perilaku yang tidak memaksimalkan dari Herbert Simon adalah memuaskan kondisi rasionalitas yang terbatas (Nicolaides, 1988: 321). Pola perilaku terhadap hambatan sosial dan perubahan ekonomi tidak akan berubah karena kebiasaan dan norma sosial (Nicolaides, 1988: 321). Kebiasaan tersebut dapat berupa ideologi politik atau agama, kecanduan dan obsesi, serta kebiasaan pribadi (Nicolaides, 1988: 321). Di sisi lain tidak maksimalisasi, ada perubahan perilaku yang terlepas dari masalah eksternal, seperti melihat ketidakkonsistenan dan irasionalitas sebagai gangguan psikologis (Nicolaides, 1988:321). Yang terakhir adalah endogenitas preferensi (Nicolaides, 1988: 321). Tidak ada konsensus dalam analisis yang tepat dari pergeseran preferensi (Nicolaides, 1988: 321). Preferensi yang tidak stabil memberikan hambatan yang berat pada dasar teori yang mencoba menggunakan pendekatan ekonomi dalam menganalisis berbagai masalah dan fenomena sosial, terlepas dari proses dimana preferensi dapat berubah (Nicolaides, 1988: 321). Tidak stabilnya preferensi dapat diakibatkan oleh perubahan lingkungan eksternal (Nicolaides, 1988: 321). 

Kemudian, para ekonom menggunakan konsep keseimbangan statis atau equilibrium dalam memahami fungsi pasar (Gilpin, 2001: 55). Konsep equilibrium menjelaskan mengenai stabilitas dan perubahan ekonomi (Gilpin, 2001: 55). Individu mengharapkan keuntungan telah mencapai keseimbangan yang terbaik serta para pelaku ekonomi tidak memiliki keinginan untuk mengubah biaya dan perilakunya (Gilpin, 2001: 55). Ekonomi neoklasik menganggap bawa setidaknya dalam jangka panjang, permintaan dan penawaran di pasar akan sesuai atau menuju keseimbangan (Gilpin, 2001: 55). Istilah disequilibrium digunakan oleh para ekonom untuk menggambarkan perilaku pelaku ekonomi yang cenderung berubah agar dapat mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungannya (Gilpin, 2001: 55). Contohnya saja, pelaku ekonomi akan meningkatkan konsumsi mereka apabila terjadi peningkatan pasokan dan harganya menjadi turun (Gilpin, 2001: 56). Namun, keinginan pelaku ekonomi untuk mengubah perilakunya akan menghilang apabila pasar kembali dalam kondisi seimbang karena ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan telah diatasi (Gilpin, 2001: 56). Oleh karena itu, para ekonom mengatakan bahwa adanya keseimbangan antara kekuatan yang berlawanan terhadap harga dan kuantitas merupakan definisi dari keseimbangan pasar (Gilpin, 2001: 56).

Equilibrium merupakan konsep kuat yang digunakan dalam menganalisa, tetapi konsep tersebut juga bisa membingungkan (Gilpin, 2001: 56). Penggunaan konsep equilibrium atau disequilibrium tanpa adanya analisa dan evaluasi hanya dapat mengukur jumlah secara praktis, seperti mengukur ekspor impor, pendapatan dan pengeluaran, transfer modal jangka panjang dalam neraca perdagangan, serta barang-barang perdagangan (Machlup, 1991: 44). Dalam ekonomi, konsep equilibrium digunakan sebagai perangkat metodologis di teori abstrak (Machlup, 1991: 44). Ekonom biasanya menghubungkan variabel ekonomi lain yang dianggap sesuai untuk equilibrium yang lebih inklusif atau disequilibrium dari keseimbangan yang dipertanyakan (Machlup, 1991: 44). Penggunaan equilibrium berkaitan dengan ‘model’ yang memiliki beberapa variabel ‘useful fiction’ yang saling berkaitan (Machlup, 1991: 44). Variabel tersebut berguna dalam menganalisa hubungan sebab akibat antara peristiwa atau perubahan variabel dengan menggunakan bagian dari eksperimen mental (Machlup, 1991: 44). Di situasi ekonomi yang konkret, penggunaan ide equilibrium cenderung berbeda, dimana seharusnya sesuatu yang telah atau akan berlangsung lama tanpa perubahan yang signifikan dianggap sebagai situasi yang historis (Machlup, 1991: 44).

Penggunaan equilibrium sebagai alat metodologi ke penggunaan equilibrium sebagai karakterisasi situasi historis yang konkret merupakan hal yang besar, karena banyak orang yang menggunakannya tanpa melihat adanya ketegangan dan perbedaan (Machlup, 1991: 45). Machlup mengatakan bahwa mereka gagal memahami konsep analitis, dan itu kondusif digunakan untuk mempertimbangkan suatu pertanyaan (Machlup, 1991: 45). Namun, sangat mudah melihat dari konsep equilibrium analitis ke konsep evaluatif (Machlup, 1991: 45). Ketika equilibrium dianggap sebagai salah satu ‘kekuatan alami’, gagasan equilibrium sebagai keseimbangan kekuatan mendapat konotasi ‘kesesuaian’ (Machlup, 1991: 45). Ataupun ketika equilibrium tersebut dianggap sebagai ‘harmoni’, akan diperoleh konotasi ‘kebaikan’ (Machlup, 1991: 45). Penggantian kekuatan ‘alami’ dengan kekuatan politik ‘progresif’ dan bermacam-macam tujuan sosial yang dimasukkan ke dalam konsep equilibrium muncul setelah penggunaan equilibrium sebagai penilaian nilai dibiarkan (Machlup, 1991: 45). Pada akhirnya, equilibrium merupakan kesesuaian yang diminta oleh masyarakat teroganisir untuk mencapai tujuan tertentu, Machlup berpendapat bahwa manfaat equilibrium sebagai perangkat analitik yang bernilai bebas dirusak oleh equilibrium dengan politik bawaan (Machlup, 1991: 45).  

Kemudian, teori comparative advantage dari Ricardo mengatakan bahwa perdagangan bebas dapat memberikan manfaat pada semua negara walaupun mereka tidak sekompetitif negara lain (O’Brien and Williams, 2016: 12). Dalam perdagangan internasional, ada beberapa alasan mengapa negara bisa mendapatkan keuntungan dengan melakukan kegiatan ekspor barang ke negara lain yang diklasifikasikan kedalam keunggulan teknologi, sumber daya, pola permintaan, dan kebijakan komersial (Gupta, 2014: 2). Yang pertama adalah berdasarkan keunggulan teknologi (Gupta, 2014: 2). Pada umumnya comparative advantage yang dimiliki suatu negara adalah karena keunggulan teknologinya yang berada diatas negara lain untuk menghasilkan barang (Gupta, 2014: 2). Dalam memproduksi suatu barang, Ricardo mengatakan bahwa prinsip comparative advantage tidak memerlukan produktivitas yang absolut, tetapi hanya produktivitas relatif yang lebih tinggi (Gupta, 2014: 2). Harga relatif pra perdagangan di setiap negara ditentukan oleh produktivitas relatif pra perdagangan, dan harga tersebut menentukan kisaran kemungkinan prasyaratan perdagangan dengan mitra dagang (Gupta, 2014: 2). Ketentuan dalam perdagangan tersebut tergantung pada pola permintaan yang nantinya akan menentukan keuntungan setiap mitra dagang (Gupta, 2014: 2).

 Ricardian mengasumsikan produktivitas konstan, dimana harga konstan atau peluang mengarah ke spesialisasi lengkap karena hanya ada satu faktor produksi yaitu tenaga kerja (Gupta, 2014: 3). Namun, keterbatasan dari beberapa faktor khusus untuk industri dapat dengan mudah diakomodasi untuk memungkinkan spesialisasi yang tidak lengkap karena peningkatan biaya peluang sering muncul dalam siatusi multi faktor (Gupta, 2014: 3). Oleh karena itu, dalam model Ricardian yang menjadi sumber utama pergerakan komoditas untuk dapat masuk ke negara lain adalah perbedaan teknologi di dua negara tersebut (Gupta, 2014: 3). Dalam hal membandingkan biaya peluang atau harga relatif barang dan jasa, prinsip comparative advantage berdasarkan keunggulan teknologi cukup umum untuk mencakup berbagai keadaan (Gupta, 2014: 3). Comparative advantage adalah konsep yang dinamis, meskipun Ricardo menjelaskannya dalam istilah statis (Gupta, 2014: 3). Selain itu, faktor sumber daya, pola permintaan, teknologi, spesialisasi, dan kebijakan pemerintah dapat membuat comparative advantage suatu negara dalam memproduksi berubah seiring waktu (Gupta, 2014: 3).   

Yang kedua, berdasarkan sumber daya (Gupta, 2014: 3). Sumber daya yang dimiliki suatu negara dapat menjadi comparative advantage negara tersebut walaupun faktor teknologi yang dimilkinya tidak unggul (Gupta, 2014: 3). Comparative advantage dapat diperoleh karena adanya perbedaan dalam keunggulan faktor relatif, seperti suatu negara yang dapat unggul memproduksi suatu barang karena sumber daya yang dimilikinya begitu melimpah (Gupta, 2014: 3). Contohnya saja, produksi kertas koran menggunakan sumber daya seperti hasil hutan yang lebih banyak dibandingkan dengan produksi tekstil, namun produksi tekstil memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak dibandingkan dengan kertas koran (Gupta, 2014: 3). Sumber daya alam Kanada relatif lebih banyak daripada India, sehingga dapat diartikan bahwa di Kanada sumber dayanya lebih murah dibandingkan dengan India (Gupta, 2014: 3). Jadi, Kanada memiliki comparative advantage berupa kertas koran yang dapat di ekspor ke India, dan sebaliknya India dapat mengekspor tekstil ke Kanada karena memiliki keunggulan di bidang tersebut (Gupta, 2014: 3).

Kemudian, sumber daya juga terbagi menjadi keterampilan manusianya, skala ekonomi, serta kesenjangan teknologi dan siklus produk (Gupta, 2014: 3-4). Negara yang memiliki keunggulan dalam sumber daya manusianya akan lebih mudah untuk mengolah comparative advantage yang dimilikinya (Gupta, 2014: 3). Produk-produk tertentu seperti barang elektronik memerlukan tenaga kerja yang sangat terampil (Gupta, 2014: 3). Disini, peran pemerintah adalah membuat kebijakan yang ditujukan untuk pendidikan dan pelatihan agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang profesional dan terampil (Gupta, 2014: 3). Lalu, dengan menurunkan biaya produksi, skala ekonomi juga dapat memberikan comparative advantage (Gupta, 2014: 4). Kebijakan industri atau peran aktif pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dan tenaga kerja berpendidikan yang lebih baik dapat dapat menggeser biaya rata-rata perusahaan lebih rendah dalam ekonomi eksternal (Gupta, 2014: 4). Biaya produksi yang lebih rendah juga dapat dicapai karena kebijakan ke pasar yang lebih besar di luar negeri menyebabkan aksesibilitas skala ekonomi internal lebih besar (Gupta, 2014: 4). Hal tersebut dapat meningkatkan comparative advantage bagi perusahaan atau industri yang memasuki skala ekonomi seperti itu (Gupta, 2014: 4). Berdasarkan kesenjangan teknologi dan siklus produk, pada umumnya sebagian besar produk dan layanan yang diproduksi oleh negara-negara industri maju memiliki awalan yang memungkinkan mereka merasakan pasar nasional dan internasional (Gupta, 2014: 4). Secara industri negara-negara maju dapat mengekspor produk-produk baru hingga negara-negara lain memproduksi produk tersebut dengan harga yang rendah (Gupta, 2014: 4). Hipotesis Siklus Produk menurut Vernon menekankan sifat dan jumlah permintaan dalam negeri penting untuk produk-produk baru di negara industri maju (Vernon, 1961 in Gupta, 2014: 4). Karena untuk menghasilkan dan mengekspor produk baru melibatkan eksperimen fitur produk, proses produksi, serta permintaan dalam negeri yang cukup (Gupta, 2014: 4). Negara bisa saja kehilangan comparative advantage terhadap produk itu apabila sifat spesifik permintaan menajadi lebih universal dan ketersediaan teknologi lebih mudah (Gupta, 2014: 4). Sementara itu, perusahaan bisa saja telah mengembangkan produk lain agar negara mendapatkan comparative advantage dari produk tersebut (Gupta, 2014: 4).

Yang ketiga, berdasarkan pola permintaan (Gupta, 2014: 4). Linder mengatakan bahwa permintaan pasar dalam negeri dapat menjadi batu loncatan untuk kesuksesannya di pasar internasional, karena produsen memulai memproduksi produk baru untuk kepuasan pasar lokal (Linder, 1961 in Gupta, 2014: 4). Pada tahapan ini, produsen akan mempelajari keterampilan yang mereka perlukan agar kegiatan produksi bisa lebih efisien (Gupta, 2014: 4). Ekspor barang juga seharusnya dilakukan kepada negara-negara yang memiliki selera atau pola permintaan yang sama (Linder, 1961 in Gupta, 2014: 4). Sebagian besar perdagangan industri antar negara-negara juga dapat terjadi karena adanya ketidaksempurnaan pasar dan diferensiasi produk (Gupta, 2014: 4). Yang terakhir berdasarkan kebijakan komersial atau kebijakan nasional dan internasional (Gupta, 2014: 5). Kebijakan nasional terkait pendidikan dan pelatihan, promosi ekspor, dan infrastruktur bermanfaat dalam mempertahankan comparative advantage suatu negara (Gupta, 2014: 5). Kebijakan seperti subsidi produksi, preferensi pajak, dan cara lainnya dapat digunakan bagi industri dalam negeri untuk memperoleh keuntungan (Gupta, 2014: 5). Kebijakan yang direalisasikan melalui ekonomi eksternal maupun internal dapat menjadi sumber comparative advantage dalam jangka panjang (Gupta, 2014: 5).

Meskipun prinsip comparative advantage menjelaskan bahwa lokasi industri ditentukan oleh faktor pendukung, tapi faktor pendukung tidak dapat menjelaskan lokasi dari banyak industri penting (Gilpin, 2001: 117). ‘The new economic geography’ atau NEG tidak membantah hubungan comparative advantage atau lokasi ekonomi, NEG berpendapat bahwa konsentrasi manufaktur dan banyak kegiatan ekonomi di lokasi-lokasi tertentu karena adanya faktor-faktor non-ekonomi, peluang, ketergantungan jalur, dan proses kumulatif (Gilpin, 2001: 117-118). Menurut NEG, seringkali masalah kebetulan atau sejarah yang membuat lokasi awal dan kegiatan ekonomi terkonsentrasi di suatu wilayah (Gilpin, 2001: 118). Namun, setelah industri atau kegiatan ekonomi di suatu wilayah didirikan dalam jangka waktu yang panjang, kekuatan kumulatif dan mekanisme umpan balik dapat tertuju pada konsentrasi berkelanjutan dari kegiatan ekonomi di wilayah tersebut (Gilpin, 2001: 118). Sebagian besar sejarah masa lalu dan proses kumulatif menentukan pilihan untuk pembuat keputusan dan dimana konteks keputusan dibuat (Gilpin, 2001: 118-119).

Analsis

Sektor perikanan merupakan kelebihan yang dimiliki Indonesia. Hal tersebut juga merupakan pengaruh dari letak geografis Indonesia yang dikelilingi oleh laut. Berdasarkan Kementerian PPN/ Bappenas, luas laut Indonesia yang dapat dikelola adalah sebesar 5,8 juta km2 (Kementerian PPN/ Bappenas, 2014). Salah satu hasil perikanan yang menjadi unggulan adalah udang, sehingga Indonesia mampu menjadi negara pengekspor udang di dunia. Udang menyumbang 18,35% dari total volume produk perikanan yang di ekspor (Sholeh, 2018). Potensi sumber daya akuakultur yang dimiliki Indonesia begitu besar, seluas 17,2 hektar total lahan indikatif yang bernilai ekonomi US$ 250 miliar per tahun (DJPB, 2018). Porsi untuk pengembangan budidaya air payau mencapai 2,8 juta hektar, tetapi pemanfaatannya baru sekitar 600 ribu hektar, diperkirakan sekitar 242 ribu hektar lahan tambak produktif yang baru dimanfaatkan untuk budidaya udang (DPJB, 2018). 

Menurut ekonomi neoklasik, tujuan utama dari pemerintahan internasional adalah tersedianya perdagangan bebas, akses tak terbatas dari perusahaan multinasional ke pasar dunia, dan kebebasan pergerakan modal (Gilpin, 2001: 12). O’Brien dan William juga berpendapat bahwa masalah utama bagi ekonom neoklasik adalah bagaimana mengalokasikan sumber daya yang langka secara efisien, dan solusinya ditemukan dalam kegiatan pasar dimana individu melakukan pertukaran agar dapat saling menguntungkan (O’Brien and Williams, 2016: 23). Indonesia dengan kelebihan sumber daya alam yang dimilikinya, melakukan kegiatan ekspor ke negara-negara yang yang membutuhkan atau kekurangan sumber daya alam tersebut. Negara yang menjadi tujuan dalam ekspor udang adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, Uni Eropa, dan negara-negara lainnya (Yuniartha, 2018). Kegiatan ekspor juga dilakukan agar negara bisa mendapatkan pemasukan dari negara lain. Produk udang Indonesia telah menyumbang devisa sebesar US$ 1,3 miliar atau 39,96% dari total nilai ekspor Indonesia (Sholeh, 2018).

Konsep equilibrium digunakan oleh para ekonom untuk memahami fungsi pasar (Gilpin, 2001: 55). Ekonomi neoklasik menganggap setidaknya dalam jangka panjang permintaan dan penawaran akan menuju ke keseimbangan (Gilpin, 2001: 55). Adanya keseimbangan antara kekuatan yang berlawanan terhadap harga dan jumlah barang merupakan definisi dari keseimbangan pasar (Gilpin, 2001: 56). Istilah disequilibrium juga digunakan oleh para ekonom untuk menjelaskan perilaku pelaku ekonomi yang cenderung berubah agar dapat mengurangi biaya sehingga mendapat keuntungan (Gilpin, 2001: 55). Konsep ini berkaitan dengan turunnya harga udang Indonesia di pasar global. Adanya peningkatan pasokan udang oleh negara-negara penghasil udang seperti India, Meksiko, dan Argentina membuat harga jual udang relatif lebih rendah (Lidya, 2019). Karena peningkatan pasokan di pasar, maka harga jual juga menjadi rendah. Indonesia mengalami penurunan harga udang di Amerika sebesar 9,3% dari US$ 9,79 per kilogram menjadi US$ 8,88 per kilogram (Rianto, 2019). Di Jepang juga terjadi penurunan harga udang sebesar 6,33% dari US$ 10,93 per kilogram menjadi US$ 10,23 per kilogram (Rianto, 2019). Selain itu, Indonesia baru dapat memenuhi 17,1% atau 118 ribu ton dari 700 ribu total kebutuhan udang Amerika Serikat per tahun (Manalu, 2019). Dan memenuhi 16% dari 200 ribu ton kebutuhan udang Jepang per tahun (Manalu, 2019). Data tersebut menunjukkan bahwa produk udang Indonesia masih kurang dalam memenuhi kebutuhan pasar global. Jika dapat meningkatkan produksinya, Indonesia akan dapat bersaing harga dengan negara saingan. 

Kemudian, berdasarkan teori comparative advantage dari Ricardo, mengatakan bahwa setiap negara dapat merasakan manfaat dari perdagangan bebas meskipun tidak sekompetitif negara lain (O’Brien and Williams, 2016: 12). Alasannya diklasifikasikan kedalam keunggulan teknologi, sumber daya, pola permintaan, dan kebijakan komersial (Gupta, 2014: 2). Yang pertama adalah negara dapat memiliki comparative advantage karena keunggulan teknologi yang dimilikinya berada diatas negara lain (Gupta, 2014: 2). Namun, menurut saya, keunggulan teknologi bukanlah menjadi alasan Indonesia memiliki comparative advantage di sektor perikanan khususnya udang. Tapi, bukan berarti Indonesia tidak menggunakan teknologi dalam proses produksinya. Pada akhir tahun 2018, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP mengembangkan teknologi yang digunakan dalam produksi udang jenis vaname (Anggraeni, 2019). Teknologi Microbubble dikembangkan agar dapat mengatasi kendala yang biasanya muncul seperti modal yang besar untuk skala tambak, biaya listrik tinggi, serangan penyakit, dan pengelolaan limbah yang tidak baik (Anggraeni, 2019). Lalu ada teknologi Aquaeasy yang merupakan teknologi holistik menggunakan sensor, service, dan software yang membantu memantau kualitas air dan manajemen tambak udang (Syukra, 2019). Teknologi ini berfokus dalam membantu petambak menjaga kualitas udang dan meningkatkan hasil produksinya secara berkelanjutan (Syukra, 2019). Walaupun telah menggunakan teknologi dalam produksinya, tetapi teknologi tersebut bukan merupakan alasan utama dari comparative advantage Indonesia. 

Alasan kedua, karena faktor sumber daya yang dimiliki suatu negara. Meskipun teknologi yang dimiliki negara tidak canggih, tapi kelebihan di sumber daya dapat menjadi alasan comparative advantage di negara tersebut (Gupta, 2014: 3). Menurut saya, alasan inilah yang menjadi faktor utama dari comparative advantage yang dimiliki Indonesia. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Indonesia memiliki keunggulan di bidang perikanan karena sumber daya lautnya yang begitu melimpah. Apabila dikelola dengan baik, sumber daya yang dimiliki tersebut juga akan meningkat. Disini keterampilan manusia sangat dibutuhkan agar dapat memaksimalkan keunggulan dari sumber daya alam negara. Comparative advantage akan lebih mudah untuk diolah apabila memiliki sumber daya manusia yang unggul (Gupta, 2014: 3). Pendidikan dan pelatihan sangat penting untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, karena semakin banyak tenaga ahli akan meningkatkan kualitas produksi sumber daya alam yang menjadi comparative advantage suatu negara. Skala ekonomi juga dapat memberikan comparative advantage bagi negara, dengan dukungan dari infrastruktur dan tenaga pendidikan yang lebih baik (Gupta, 2014: 4). Apabila produsen memproduksi banyak barang, maka harga barang akan turun dan menjadi keuntungan bagi konsumen. Tapi Indonesia belum bisa bersaing dengan negara lain dari segi skala ekonominya. Seperti di India, Meksiko dan Argentina yang produksi udangnya meningkat sehingga mereka dapat menjual dengan harga yang lebih rendah (Lidyana, 2019). Selain itu, negara-negara maju dapat memproduksi produk baru dan mengekspornya ke negara lain (Gupta, 2014: 4). Negara dapat kehilangan comparative advantagenya apabila spesifikasi pada permintaan menjadi lebih universal dan akses teknologinya lebih mudah (Gupta, 2014: 4). Jadi, dapat dikatakan bahwa negara akan sulit bersaing dengan negara lain apabila tidak memiliki inovasi baru dalam produk yang dihasilkannya. Produk dengan spesifikasi yang umum akan mudah dipenuhi atau diproduksi oleh negara lain. Di Indonesia, jenis udang yang menjadi keunggulan ekspornya adalah udang vaname. Jenis udang tersebut menjadi keunggulan karena penyimpanannya bisa tahan lama (Yovanda, 2018). Kelebihan lain dari jenis udang vaname adalah memiliki daya tahan yang baik terhadap perubahan lingkungan dan penyakit, hemat pakan, pertumbuhannya yang cepat, pemeliharaan sekali siklus relatif pendek sekitar 90 hingga 100 hari, serta derajat kehidupannya tergolong tinggi (Admin, 2019). Sedangkan banyak negara yang juga memproduksi udang vaname, seperti Vietnam, Bangladesh, Ekuador, dan India (Zulfikar, 2019). Jika ingin terus bertahan dalam persaingan ekspor udang, Indonesia harus memiliki inovasi baru yang yang dapat menjadi keunggulannya.

Ketiga, alasan negara memiliki comparative advantage adalah karena pola permintaan terhadap produknya (Gupta, 2014: 4). Linder berpendapat bahwa pemintaan yang dimulai dari dalam negeri dapat menjadi kesuksesan di pasar Internasional nantinya, karena produsen akan memberikan kepuasan kepada pasar lokal terlebih dahulu (Linder, 1961 in Gupta, 2014: 4). Menurut saya, selain fokus terhadap kegiatan ekspor, produsen juga harus dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Proses produksi dilakukan di dalam negeri oleh masyarakat lokal, setidaknya kebutuhan dan permintaan pasar lokal tercukupi. Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) telah meningkatkan penjualan udang di dalam negeri selain untuk pasar ekspor (Hidayat, 2019). Melalui pameran Eastfood Indonesia 2019, AP5I telah meluncurkan produk udang beku ke pasar dalam negeri sebagai langkah awal penjualannya (Hidayat, 2019). Produk yang dipasarkan adalah udang beku hasil panen yang masih segar, sehingga masyarakat lokal berkesempatan mengkonsumsi udang kualitas ekspor yang berkualitas tinggi dan telah memenuhi standar keamanan pangan (Hidayat, 2019). Namun, pemasaran produk udang di dalam negeri tersebut dilakukan karena harga produk udang di pasar global sedang menurun (Manalu, 2019). Jadi, dapat dikatakan bahwa produsen udang di Indonesia mulai memasarkan produk udang dengan kualitas tinggi di dalam negeri saat harga produk menurun di pasar internasional.

Kemudian, terjadinya comparative advantage karena adanya kebijakan komersial atau kebijakan nasional dan internasional (Gupta, 2014: 5). Kebijakan yang digunakan suatu negara melalui ekonomi eksternal maupun internasional dapat menjadi sumber comparative advantage dalam jangka panjang (Gupta, 2014: 5). Di dalam negeri, KKP akan memperbaiki kebijakan dan regulasi agar dapat memudahkan investasi masuk ke sektor budi daya udang (Nuraini, 2019). Selain itu, dalam upaya menghilangkan tumpang tindih aturan dan birokrasi, melalui kebijakan omnibus law presiden Jokowi sedang merancang penyederhanaan regulasi (Nuraini, 2019). Menteri Edhy menilai bahwa hal itu wajar dilakukan mengingat ekspor udang telah memberikan devisa hingga 40% dari total ekspor produk perikanan nasional (Nuraini, 2019). Menurut saya, kebijakan yang baik sangat diperlukan apabila ingin meningkatkan kualitas ekpor udang Indonesia. Terutama kebijakan dalam negeri yang nantinya akan dirasakan langsung oleh produsen udang. Namun, kebijakan yang dibuat juga harus memperhatikan masyarakat dan petani tambak lokal. Jangan sampai kebijakan tersebut hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu. Sedangkan dari negara lain, seperti kebijakan Amerika Serikat terkait proteksi perdagangan dikhawatirkan akan merugikan ekspor udang Indonesia (Hadiyantono, 2018). Kebijakan tersebut disebabkan oleh semakin defisitnya neraca dagang Amerika Serikat terhadap sejumlah mitra dagang, termasuk Indonesia yang menempati posisi 16 dari daftar negara yang memberikan dampak defisit (Surbakti, 2018). Fasilitas pengurangan atau pembebasan bea masuk impor dari Indonesia juga ditinjau ulang oleh Amerika Serikat (Fitra, 2018). Apabila fasilitas ‘Generalized Systems of Preference’ (GSP) dicabut, produk Indonesia yang di ekspor ke Amerika Serikat akan mengalami penurunan (Fitra, 2019). Menurut saya, kebijakan dalam negeri maupun kebijakan negara lain tidak semuanya yang dapat dijadikan alasan comparative advantage suatu negara. Karena tidak semua kebijakan yang dibuat pemerintah akan menguntungkan bagi negara pengekspor. 

Kesimpulan

Indonesia memiliki keunggulan karena letak geografisnya yang dikelilingi oleh laut. Hasil perikanan khususnya udang merupakan salah satu produk ekspor unggulan. Negara yang menjadi tujuan ekspor udang Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan negara lainnya. Indonesia melakukan ekspor udang ke negara lain agar mendapat pemasukan dari produk unggulannya. Ekspor udang telah menyumbang devisa sebesar US$ 1,3 miliar dari total nilai ekspor Indonesia (Sholeh, 2018). Sedangkan negara yang menjadi saingan Indonesia dalam ekspor udang adalah India, Vietnam, dan Ekuador. Walaupun memiliki sumber daya yang berlimpah, tetap diperlukan pengelolaan yang baik agar dapat memaksimalkan penggunaan sumber daya tersebut. Karena agar dapat bersaing di pasar global, kualitas produk dan jumlah produksi sangat penting untuk diperhatikan. Pengaruhnya akan terlihat pada nilai jual dan kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan udang negara lain. Dalam membahas esai ini juga menggunakan beberapa teori seperti ekonomi neoklasik, equilibrium, dan comparative advantage.

Ekonomi neoklasik memandu ekonomi global dan aturan-aturan yang mengaturnya berdasarkan prinsip pasar (Gilpin, 2001: 12). Menurut ekonomi neoklasik, pemerintahan internasional memiliki tujuan utama seperti perdagangan bebas, pergerakan modal, dan akses tak terbatas perusahaan multinasional ke pasar dunia (Gilpin, 2001: 12). Solusi dari pengalokasian sumber daya langka secara efisien dapat ditemukan dalam kegiatan pasar dimana proses pertukaran yang saling menguntungkan dapat dilakukan (Gilpin, 2001: 23). Kritiknya adalah ekonomi neoklasik terbatas dalam penerapan pemahaman fungsi ekonomi dari waktu ke waktu karena geografi dan sejarah tidak dipertimbangkan dalam menjelaskan ekonomi (Gilpin, 2001: 104). Analisis ekonomi neoklasik tidak menjelaskan tentang sejarah ekonomi maupun sifatnya yang terus berkembang, padahal apabila tidak diiringi penjelasan tersebut hampir tidak mungkin memahami dinamika ekonomi dunia (Gilpin, 2001: 104). Kritik lainnya adalah ekonomi neoklasik tidak mementingkan diri sendiri, informasi tidak sempurna dan ketidakpastian, tidak maksimalisasi, dan endogenitas preferensi (Nicolaides, 1988: 321).

Kemudian, dalam memahami fungsi pasar para ekonom juga menggunakan konsep equilibrium (Gilpin, 2001: 55). Konsep ini menjelaskan tentang stabilitas dan perubahan di dalam ekonomi (Gilpin, 2001: 55). Ekonomi neoklasik menganggap bahwa permintaan dan penawaran akan menuju ke keseimbangan setidaknya dalam jangka panjang (Gilpin, 2001: 55). Dan istilah disequilibrium digunakan untuk menjelaskan perilaku pelaku ekonomi yang cenderung berubah agar dapat mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungannya (Gilpin, 2001: 55). Kritiknya adalah penggunaan konsep equilibrium atau disequilibrium hanya dapat mengukur jumlah secara praktis seperti ekspor impor, pendapatan dan pengeluaran, serta neraca perdagangan tanpa adanya analisa dan evaluasi (Machlup, 1991: 44). Teori ini berkaitan dengan penurunan nilai jual udang Indonesia di pasar global karena ada negara pengekspor lain yang memiliki pasokan lebih banyak sehingga harganya lebih murah. Berdasarkan konsep disequilibrium, tentunya negara pengimpor akan menghemat biaya dengan membeli produk yang harganya lebih murah. 

Lalu teori comparative advantage mengatakan bahwa setiap negara tetap dapat merasakan manfaat dari perdagangan bebas dengan keunggulan yang dimilikinya (O’Brien and Williams, 2016: 12). Menurut Gupta, alasannya diklasifikasikan ke dalam keunggulan teknologi, sumber daya, pola permintaan, dan kebijakan komersial (Gupta, 2014: 2). Memang Indonesia menggunakan beberapa teknologi untuk mendukung dan memaksimalkan produksinya. Tetapi keunggulan teknologi bukan menjadi alasan Indonesia memiliki comparative advantage dalam produksi udang. Sumber daya alam yang menjadi alasan utama Indonesia memiliki comparative advantage. Hanya saja sumber daya manusianya harus lebih ditingkatkan agar menghasilkan hasil yang lebih baik. Pola permintaan dan kebijakan komersial juga bukan merupakan alasan dari keunggulan produk udang Indonesia. Karena pola permintaan di Indonesia masih kurang, serta belum tentu kebijakan nasional dan internasional selalu memiliki dampak yang baik terhadap kegiatan produksi dan ekspor udang.

Referensi

Admin. (2019) Keunggulan Udang Vanamei. Infishta . 6 Februari. Available from: https://infishta.com/blogs/keunggulan-udang-vanamei

Anggraeni, Vita Ayu. (2019) Teknologi Baru Ramah Lingkungan untuk Budidaya Udang. GoodNews [online]. 11 Januari. Available from: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/01/11/teknologi-baru-ramah-lingkungan-untuk-budidaya-udang

Chandra, Ardan Adhi. (2016) Udang Hingga Tuna RI Rajin Diekspor ke AS dan Jepang. detikFinance [online]. 25 Agustus. Available from: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3283010/udang-hingga-tuna-ri-rajin-diekspor-ke-as-dan-jepang

DJPB. (2018) KKP: Budidaya Udang Masih Sangat Potensial. Direktorat Jenderal Perikanan Budaya [online]. 14 Desember. Available from: https://kkp.go.id/djpb/artikel/8688-kkp-budidaya-udang-masih-sangat-potensial

Fitra, Safrezi. (2018) Ancaman Baru Fasilitas Dagang Amerika untuk Indonesia. Katadata [online]. 26 Desember. Available from: https://katadata.co.id/telaah/2018/12/26/ancaman-baru-fasilitas-dagang-amerika-untuk-indonesia

Gilpin, Robert. (2001) Global Political Economy: Understanding the International Economic Order. Princeton University Press

Gupta, Satya Dev. (2014) Comparative Advantage and Competitive Advantage: An Economics Perspective and a Synthesis. Athens Journal of Business and Economics

Hadiyantono, Tane. (2018) China dan Timur Tengah bisa menjadi alternatif ekspor udang Indonesia. Kontan [online]. 20 Agustus. Available from: https://nasional.kontan.co.id/news/china-dan-timur-tengah-bisa-menjadi-alternatif-ekspor-udang-indonesia

Hidayat, Agung. (2019) Ekspor udang tertekan, AP5I bidik pasar baru. Kontan [online]. 24 Juni. Available from: https://industri.kontan.co.id/news/ekspor-udang-tertekan-ap5i-bidik-pasar-baru

Infoakuakultur. (2019) 2019: Teropong Peluang Indonesia dalam Pasar Ekspor Udang Dunia. Majalah Perikanan Budaya [online]. 20 Februari. Available from: https://infoakuakultur.com/2019-teropong-peluang-indonesia-dalam-pasar-ekspor-udang-dunia/

Kementerian PPN/ Bappenas, Direktorat Kelautan dan Perikanan. (2014) Kajian Strategi Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Lidyana, Vadhia. (2019) Penjelasan Lengkap KKP soal Ekspor Produk Perikanan Turun. detikFinance [online]. 19 Juni. Available from: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4592433/penjelasan-lengkap-kkp-soal-ekspor-produk-perikanan-turun

Linder (1961) cited in Gupta, Satya Dev. (2014) Comparative Advantage and Competitive Advantage: An Economics Perspective and a Synthesis. Athens Journal of Business and Economics

Machlup, Fritz. (1991) Economic Semantics Second Edition. Transaction Publishers

Manalu, Juli Etha Ramaida. (2019) Pengusaha Udang Lirik Pasar Domestik. Bisnis [online]. 28 Juni. Available from: https://ekonomi.bisnis.com/read/20190628/99/939083/pengusaha-udang-lirik-pasar-domestik

Manalu, Juli Etha Ramaida. (2019) Pengusaha Udang Mulai Lirik Pasar China dan Eropa. Bisnis [online]. 3 Maret. Available from: https://ekonomi.bisnis.com/read/20190303/99/895524/pengusaha-udang-mulai-lirik-pasar-china-eropa

Nicolaides, Phedon. (1988) Limits to the expansion of neoclassical economics. Cambridge Journal of Economics, published by Oxford University Press

Nuraini, Desyinta. (2019) KKP Bakal Permudah Investasi Budi Daya Udang. Bisnis [online]. 2 Desember. Available from: https://ekonomi.bisnis.com/read/20191202/99/1176486/kkp-bakal-permudah-investasi-budi-daya-udang

Nuraini, Desyinta. (2019) Target Produksi dan Ekspor Udang Indonesia Masih Rendah. Bisnis [online]. 26 November. Available from: https://ekonomi.bisnis.com/read/20191126/99/1174427/target-produksi-dan-ekspor-udang-indonesia-masih-rendah

O’Brien, Robert and Williams, Marc. (2016) Global Political Economy: Evolution and Dynamics. Palgrave Macmillan Fifth Edition

Rianto, Audri. (2019) Nilai Ekspor Udang Indonesia ke Amerika dan Jepang Menurun. ISW [online]. 16 November. Available from: https://www.isw.co.id/single-post/2019/08/23/Nilai-Ekspor-Udang-Indonesia-ke-Amerika-dan-Jepang-Menurun

Sholeh, Kaharuddin. (2018) Kinerja Ekspor Produk Perikanan Indonesia Tahun 2018*. Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan [online]. 19 Oktober. Available from: https://kkp.go.id/djpdspkp/artikel/7947-kinerja-ekspor-produk-perikanan-indonesia-tahun-2018

Surbakti, Tesa Oktiana. (2018) Indonesia Siapkan Strategi Hadapi Kebijakan Proteksi Amerika Serikat. Media Indonesia [online]. 12 Juli. Available from: https://mediaindonesia.com/read/detail/171622-indonesia-siapkan-strategi-hadapi-kebijakan-proteksi-as

Syukra, Ridho. (2019) Bosch Perkenalkan Teknologi Smart Aquaculture, Aquaeasy untuk Tambak Udang. Investor Daily [online]. 6 November. Available from: https://investor.id/business/bosch-perkenalkan-teknologi-smart-aquaculture-aquaeasy-untuk-tambak-udang

Vernon (1961) cited in Gupta, Satya Dev. (2014) Comparative Advantage and Competitive Advantage: An Economics Perspective and a Synthesis. Athens Journal of Business and Economics

Widowati, Hari. (2019) Indonesia Eksportir Udang Beku Terbesar Keempat di Dunia. Databoks [online]. 12 Juni. Available from: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/06/12/indonesia-eksportir-udang-beku-terbesar-keempat-di-dunia

Workman, Daniel. (2019) Big Export Sales for Frozen Shrimps. World’s Top Exports [online]. 1 Mei. Available from: http://www.worldstopexports.com/big-export-sales-for-frozen-shrimps/

Yovanda, Yanuar Riezqi. (2018) Primadona Ekspor, Ini Keunggulan Udang Vaname. Sindonews [online]. 1 Juli. Available from: https://ekbis.sindonews.com/read/1317934/34/primadona-ekspor-ini-keunggulan-udang-vaname-1530435981

Yuniartha, Lidya. (2018) KKP targetkan produksi udang budidaya sebanyak 700.000 ton tahun ini. Kontan [online]. 15 Agustus. Available from: https://industri.kontan.co.id/news/kkp-targetkan-produksi-udang-budidaya-sebanyak-700000-ton-tahun-ini

Zulfikar, Wildan Gayuh. (2019) Fluktuasi Harga Udang Dunia. Jala [online]. 25 Juni. Available from: https://app.jala.tech/kabar_udang/33