Paul Romer dan Hadiah Nobel Ekonomi

Photographer: Henrik Montgomery/AFP/Getty Images

Sebagai seorang ekonom, sesuatu yang membanggakan untuk bisa mendapatkan hadiah Nobel di bidang ekonomi. Itu berarti, kita telah berhasil memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat dan perkembangan ilmu ekonomi. Dan tahun ini hadiah ini jatuh pada Paul Romer dan William Nordhaous.

Paul Romer pantas memenangkan hadiah Nobel atas kontribusinya pada teori pertumbuhan ekonomi dengan membuat model pertumbuhan ekonomi dan entreprenurship.Teori Romer ini membantah teori pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan Gross Domestic Product atau GDP) yang banyak digunakan oleh banyak negara.

Paul Romer adalah Profesor di New York University yang sebelumnya bekerja di Stanford University. Ia merupakan lulusan dari Chicago University. Ide-ide Romer banyak dipengaruhi oleh ekonom terkenal seperti Joseph Schumpeter dan Robert Solow

Romer menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa dicapai apabila diikuti oleh pertumbuhan ide-ide yang mendukung. Berdasarkan alasan tersebut maka ide, seharusnya masuk sebagai modal. Ide yang dimaksud di sini termasuk paten, intelektual properti, universitas, pasar modal, penelitian sumber daya manusia, transmisi ide, perdagangan dan besarnya pasar, teknologi, peraturan dan kota.

Pelajaran dari kontribusi Romer

Romer menegaskan bahwa ekonomi hanya bisa dibangun berdasarkan ide yang tidak dibatasi oleh peraturan yang rumit. Akan tetapi, dunia ini terlalu banyak peraturan buruk sehingga membuat perkembangan menjadi terhambat. Peraturan yang melarang bisnis baru (startup) untuk bisa dibangun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, masyarakat harus diberikan hak untuk menyuarakan pendapatnya. Dengan kata lain peraturan tidak boleh dibuat dengan sepihak.

Romer mengamati model pertumbuhan di China dan Hongkong. Hongkong adalah salah satu kota yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang menjadi model yang pantas untuk ditiru. Di kota tersebut, perusahaan-perusahaan baru diberikan peluang yang besar untuk memulai usahanya, dan manusia-manusia yang memiliki keterampilan dari mainland China dan Taiwan berusaha untuk pindah ke HongKong untuk bisa bekerja disana. Secara sistem, hanya manusia-manusia yang memiliki kualitas bisa tinggal di kota tersebut.

Hongkong menjadi habitat orang-orang yang berkualitas. Hal yang sama juga berlaku di Singapura, di mana manusia-manusia yang memiliki kemampuan dan kapasitaslah yang bisa tinggal di negara tersebut. Manusia-manusia yang datang ke kota dan negara tersebut masing-masing datang membawa ide dan keterampilan, sehingga kota dan negara tersebut menjadi Bank Ide, atau sumber ide-ide baru.

Nasionalisme itu bagus, tapi membuka diri untuk belajar mendengar dan memahami ide orang lain itu juga sangat penting.

– –

Banyak kota-kota besar di dunia kini yang dibentuk dari ide-ide pendatang seperti halnya New York. Romer mengajarkan kita bahwa, pertumbuhan ekonomi hanya bisa dicapai bila kita tidak membatasi diri dari ide-ide yang bermanfaat dan tidak membatasi datangnya sumber ide tersebut.

Sementara di Indonesia, ide ini masih susah dijalankan karena masih adanya sentimen asing yang dianggap akan mengambil pekerjaan di Indonesia. Mungkin kita bisa belajar dari negara tetangga Malaysia dan Singapura yang perekonomiannya jauh lebih baik dari kita. Di negara-negara tersebut, mereka menghargai ide-ide yang datang dari luar. Mereka belajar banyak bahasa dan saling menghargai.

Indonesia terkenal dengan sebagai masyarakat yang memiliki daya penolakan yang besar terhadap nilai dan ide baru yang masuk. Nasionalisme itu bagus, tapi membuka diri untuk belajar mendengar dan memahami ide orang lain itu juga sangat penting.