Neoliberalisme dan Perekonomian Indonesia

Ilustrasi (Photo: Shutterstock)

Di setiap ajang kontestasi politik nasional tidak pernah lepas dari isu campur tangan asing di perekonomian Indonesia. Tapi pertanyaannya adalah apa benar ekonomi Indonesia dikuasai oleh asing seperti yang selama ini sering didengungkan oleh banyak politisi dan ekonom yang menganggap diri mereka anti Neo-liberal.

Sebelum saya mengupas kebenaran tersebut, saya ingin menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan paham ekonomi neolib yang dianggap sangat beracun untuk perekonomian Indonesia.

Definisi dan Sejarah NeoliberalIsme

Paham neoliberal ekonomi merupakan turunan dari paham liberal klasik (classical liberalism) yang pertama kali muncul diabad ke 16, ketika John Locke (1632-1704) mengayarkan ide tentang ‘State of Nature’ yang intinya mengedepankan ide kebebasan dan kesamaan hak yang tidak boleh dibatasi oleh kekuasaan negara. Ide John Locke yang merupakan benih utama dari ide klasik liberal yang kemudian diadopsi secara besar-besaran diabad 17 dan 18 yang dikenal gerakan pencerahan.

Pada perjalanannya, ide klasikal liberalisme semakin berkembang dan diadopsi oleh banyak pemikir ekonomi yang kemudian dikenal dengan neoliberal ekonomi. Di abad ke 19 bermunculan tokoh yang mengembangkan ide neoliberal ekonomi seperti John Maynard Keynes, Friedrich von Hayek and Milton Friedman dan pemimpin dunia yang sangat terkenal mengadopsi paham ini adalah Ronald Regan dan Margaret Thatcher.

Ide inti dari neoliberal ekonomi menganggap bahwa pemerintah memiliki keterbatasan kemampuan/pengetahuan untuk mengatur ekonomi, oleh karena itu campur tangan pemerintah harus dibatasi di pengelolaan ekonomi. Mereka menganggap ekonomi sebaiknya dijalankan oleh perseorangan.

Neoliberalisme di Indonesia

Di Indonesia paham neoliberalisme sering dijadikan kambing hitam sebagai keterpurukan ekonomi nasional. Kerap pula hal ini dikaitkan dengan paham individu yang kebetulan secara langsung menjadi penasehat ekonomi pemerintah yang dikenal dengan mafia Berkeley atau lulusan program Doktor dari University of California, Berkeley, yang menjadi penasihat Presiden Suharto di awal tahun 1960’an.

Keterkaitan dari anggapan lulusan Amerika mengadopsi paham neoliberalisme wajar-wajar saja karena Amerika Serikat merupakan negara yang menganut paham liberalisme ekonomi. Hampir semua universitas di Amerika Serikat terutama di Fakultas Ekonomi mengajarkan teori ekonomi neoliberalisme, meskipun muncul beberapa perbedaan pendapat yang dikenal dengan istilah ekonom air asin (Salt Water Economist) dan ekonom air tawar (Fresh water economist), atau istilah lain seperti Chicago Economist dan Berkeley Economist.

Perbedaan ini merupakan hal yang wajar, karena Universitas di Amerika Serikat sering berbeda pendapat. Akan tetapi semua perbedaan itu selalu kembali pada ajaran utama yang dipahami yaitu neoliberalisme ekonomi yang tertuang semua buku text book Prinsip-prinsip ekonomi, Ekonomi Makro, Ekonomi Mikro.

Buku-buku seperti karya Michael Parkin and Robin Bade, N. Gregory Mankiw, Paul Krugman, Ben Bernanke dan masih banyak lagi adakah buku-buku yang mengadopsi sistesis ajaran neoliberalisme. Jadi agak aneh sebenarnya anggapan yang menuduh lulusan ekonomi Amerika Serikat adalah penganut ajaran Neolib kalau pada faktanya di Universitas-universitas Indonesia sendiri menggunakan buku-buku tersebut sebagai panduan bahan pengajaran. Bahkan hampir seluruh universitas di dunia menggunakan buku-buku tersebut sebagai textbook atau diktatutama.

Graph 1 Ekonom Indonesia (Data diolah dari berbagai sumber)

Kalau kita melihat data dari pejabat yang sedang atau mengelola perekonomian/keuangan di Indonesia, 38% dari mereka berasal dari lulusan Amerika Serikat, 31% lulusan dari universitas dalam negeri dam 23% lulusan Belanda (Lihat Graph diatas). Persebaran angka ini menunjukkan bahwa sebenarnya perekonomian Indonesia tidak didominasi oleh ekonom lulusan dari Amerika, karena pada faktanya angkanya tidak mencapai 50%. Belanda, Perancis, Australia yang notabene menjadi negara pencetak ekonom di Indonesia menganut paham liberalisme.

Sekali lagi, saya ingin menegaskan bahwa tuduhan yang menganggap lulusan Doktor Ekonomi dari Amerika Serikat sudah pasti menganut mengadopsi paham neoliberal ekonomi tidak cukup beralasan. Kalaupun tetap kekeh mempertahankan pendapat tersebut, maka semua universitas yang memakai buku ajar Prinsip-prinsip ekonomi, Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro harus dicap mengadopsi Neoliberalisme.

Masyarakat harus paham bahwa ekonomi neoliberalisme hanya berbicara tentang ekonomi pasar dan enggan mengaitkannya dengan peran negara. Oleh karena itu wajar kalau paham negara dan ekonomi sering bertentangan. Ini sangat penting untuk dipahami oleh masyarakat, sehingga mereka mampu memahami hal ini secara jelas dan berimbang

Peran Asing

Tuduhan yang menganggap bahwa asing menguasai perekonomian Indonesia menurut saya tidak cukup beralasan. Hal ini sebabkan karena, perusahaan asing-pun sebenarnya enggan masuk ke Indonesia. Kalau mereka tertarik masuk maka laju dan besaran investasi asing di Indonesia akan sangat besar.

Faktanya malah terbalik, asing tidak terlalu berminat masuk berinvestasi ke Indonesia karena masalah birokrasi yang pelik dan peraturan yang saling tumpang tindih yang dampaknya akan buruk untuk bisnis mereka.

Coba liat perekonomian China yang notabene menganut paham sosialisme komunis, arus investasi asing yang masuk ke negara tersebut sangat besar mencapai US$ 68.32 miliar di tahun 2018 dibandingkan dengan Indonesia yang hanya US$ 7.1 miliar.

Jadi mengambin hitamkan asing sebagai penyebab masalah ekonomi di Indonesia tidak beralasan, karena permasalahan sesungguhnya ada pada kemampuan kita sendiri yang tidak sanggup memproduksi barang yang kita butuhkan, sehingga barang-barang impor membanjiri pasar Indonesia.

Dan impor barang tersebut dilakukan sendiri oleh perusahaan Indonesia, bukan perusahaan asing. Semisalnya Indonesia mampu mengelola dan memproduksi barang seperti Handphone, Mobil dan barang-barang lainnya yang memiliki kualitas tinggi, maka saya yakin Indonesia tidak akan mengimpor barang-barang tersebut dan pola pendekatan ekonomi berbasis produksi ini sukses diterapkan di negara-negara maju seperti Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dsb.

Dengan demikian saya bisa mengasumsikan bahwa produk buatan luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, dan itu bukan salah Asing-nya tapi kembali pada masyarakat tidak mendapatkan pilihan produk yang cukup dari hasil buatan tangan bangsa sendiri.