Menjawab Apakah Jokowi Presiden Sukses atau Gagal?

Presiden Jokowi tinjau fasilitas difabel di Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (1610). (Foto: Dok. Biro Pers Setpres)

Politik itu berbicara tentang kekuasaan dan cara memperoleh kekuasaan. Pemerintah yang berkuasa wajar saja mempromosikan kinerja yang sudah dia lakukan, biasanya itu disebut dengan sosialisasi program.

Masyarakat dalam hal ini memang butuh informasi mengenai kinerja pemerintah, kalau mereka kurang informasi, sudah pasti mereka tidak bisa ikut berpartisipasi dan menikmati hasil dari program tersebut. Ini berbeda dengan politik pencitraan.

Politik pencitraan atau imaginary campaign dalam pendekatan teori marketing politik adalah taktik atau strategi marketing yang digunakan untuk menciptakan persepsi baik yang jauh dari ‘kenyataan atau realitas’ dengan tujuan mendapatkan dukungan dari masyarakat (Steger 2008).

Dalam konteks ini Anda tentu bisa mengukur sendiri apakah program yang sudah ditawarkan/jalankan jauh dari apa yang sudah dipaparkan oleh Presiden Jokowi.

Pengukuran di sini kembali kepada subjektifitas masing-masing individu. Tidak ada ukuran yang baku yang bisa menentukan validitas suatu metode pengukuran karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

Terlebih lagi kalau pengukuran keberhasilan ‘Presiden’ dibuat dengan metodologi yang tidak ditunjang dengan landasan teori yang kuat. Akan tetapi hasil survei tersebut bisa saja dijadikan sebagai gambaran bahwa ada kandungan informasi di dalamnya.

Tidak ada ukuran yang baku yang bisa menentukan validitas suatu metode pengukuran karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.

– –

Pengukuran Keberhasilan

Sekarang yang menjadi pertanyaan apakah wajar mengukur keberhasilan Presiden dengan menggunakan persepsi publik, bukan pada keberhasilan menunaikan janji-janji kampanye?

Sebelum saya menjawab itu, saya ingin memberikan analogi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi pasangan yang sudah menikah, ketika pasangan berjanji akan melakukan ‘a-z’ ketika sudah menikah, ternyata dalam prosesnya janji-janji tersebut tidak terlaksana, apakah lantas orang lain bisa mengatakan bahwa Istri/Suami si ‘A’ gagal?

Tentu saja tidak, karena yang bisa mengukur Suami/Istri itu gagal atau tidak adalah pasangannya sendiri. Dan tidak menutup kemungkinan keberhasilan pasangan pada janji tertentu bisa menutupi kesalahan atau janji yang belum ditunaikannya.

Analogi yang kedua adalah, mengukur kesuksesan anak sendiri dengan membandingkan dengan anak orang lain. Karena pada intinya orang tuanya sendirilah yang paling tahu karakter dan kebutuhan anaknya. Kalau ukurannya adalah anak yang sukses adalah anak yang menulis dengan tangan kanan, maka menjadi tidak adil bagi anak yang kidal.

Maka kemudian menjadi tidak wajar mengukur karakter anak sendiri dari ukuran atau cara pandang orang lain.

OK. Mungkin analogi di atas terlalu sederhana. Saya akan berikan pendekatan yang banyak digunakan oleh perusahaan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu produk atau merek yang biasanya diukur dengan melihat dari kepuasan konsumen (Silakan Anda baca bukunya Hill dan Brierly 2017).

Banyak buku dan jurnal yang sudah dipublikasi dengan metode scientific yang mengukur keberhasilan suatu produk/merek/perusahaan dengan melihat bagaimana konsumer/pelanggan/pekerja menilai barang atau hasil kinerja seseorang. Persepsi itu terbentuk dari pertemuan ekspektasi dan realitas.

Persepsi itu terbentuk dari pertemuan ekspektasi dan realitas.

– –

Ekspektasi si berbeda dengan si B, begitu pun realitas bagi si berbeda dengan realitas si B. Jadi tidak akan ada ukuran yang mendekati kesempurnaan bisa dijadikan alat ukur satu-satunya untuk menjustifikasi bahwa si atau si berhasil, karena itu kembali pada persepsi masing-masing.

Ketika ekspektasi bertemu dengan realitas maka terciptalah kepuasan atau bahasa bisnisnya consumer satisfaction. Konsumen yang berulang kali mendapatkan kepuasan dari produk dan pelayanan dari suatu perusahaan akan membentuk kesetiaan konsumen.

Contoh sederhana adalah perusahaan Apple. Apple adalah salah satu perusahaan yang memiliki kesetiaan konsumen yang sangat tinggi, bahkan mencapai kesetiaan buta (blind loyalty). Capaian Apple ini tidak serta merta diperoleh dengan menawarkan produk yang jelek pada konsumen, akan tetapi diperoleh dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan ekspektasi pelanggannya.

Anda tidak bisa menilai produk Apple kalau Anda tidak pernah bersentuhan atau menjadi konsumen Apple. Jadi intinya dalam bisnis pun pengukuran keberhasilan suatu perusahaan bisa dinilai dari persepsi pelanggannya.

Pernyataannya kemudian, “itu kan bisnis bukan politik, apalagi negara! Mana bisa dijadikan ukuran?

Sekali lagi jawabannya adalah bisa menjadi salah satu patokan. Perlu Anda tahu, negara dan perusahaan memiliki struktur organisasi yang mirip, sehingga menjadi hal yang wajar apabila pengukuran kepuasan kinerja dalam bisnis digunakan dalam politik.

Kalau Anda tidak setuju, itu pun hal yang wajar-wajar saja, tergantung se-ilmiah apa ukuran yang Anda pakai. Tapi selama itu belum memenuhi kaidah pengukuran yang ilmiah, tidak bisa dijadikan patokan.

Negara dan perusahaan memiliki struktur organisasi yang mirip, sehingga menjadi hal yang wajar apabila pengukuran kepuasan kinerja dalam bisnis digunakan dalam politik.

– –

Nah, kembali pada rakyat Indonesia. Apakah Anda merasa Presiden Jokowi sukses atau tidak itu tergantung dari persepsi Anda masing-masing, apakah harapan Anda bertemu dengan realitas yang ada?

Misalnya bagi petani, yang sekarang menikmati irigasi yang merupakan hasil dari proyek pembangunan Pak Jokowi, tentu kemungkinan besar akan puas dengan kinerja Jokowi, akan tetapi bagi orang yang merasa tidak mendapatkan percikan manfaat, tentu Anda memiliki opini/persepsi yang berbeda.

Toh itu kembali pada tolak ukur masing-masing individu.