Mencermati Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Pelemahan Nilai Rupiah Selama 20 Tahun (Sumber FT.Com)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sudah mencapai Rp 14.927. Pelemahan pergerakan nilai tukar rupiah bukanlah sesuatu yang baru, karena kalau kita melihat ke belakang, rupiah tidak pernah mengalami penguatan yang cukup signifikan.

Setidaknya ada 3 faktor utama yang menyebabkan tergerusnya nilai rupiah yang semakin bergerak tajam belakang ini.

Faktor utama adalah lemahnya pendapatan negara dari sektor ekspor. Lemahnya pendapatan negara dari hasil ekspor sudah berlangsung sejak akhir 2012. Indikasi turunnya pendapatan pemerintah yang sebagian besar masih ditopang dari ekpor barang-barang komoditas bisa dilihat dari besarnya defisit transaksi berjalan Indonesia yang mencapai 3,26% di tahun 2013. Itu berarti belanja pemerintah sudah lebih besar dari pendapatan.

Graph Pergerakan Rupiah terhadap Dolar (Sumber, TradingEconomics)

Meskipun pada 2010-2013 rupiah (lihat pada grafik di atas) sempat menguat, akan tetapi penguatan rupiah tersebut lebih didukung oleh tingginya geliat ekspor batu bara terutama ke China dan India. Akan tetapi, setelah China menurunkan permintaannya terhadap batu bara Indonesia yang mulai terasa pada 2013.

Harga batu barapun semakin terjerembab, sehingga intensitas and kuantitas eksporpun juga ikut menurun. Penurunan permitaan batu bara China bukan disebabkan karena menurunkan pertumbuhan ekonomi China yang diduga menyebabkan melemahnya daya permintaan industri dalam negeri terhadap batu bara.

Turunnya permintaan China terhadap batu bara Indonesia lebih disebabkan besarnya dampak lingkungan termasuk polusi udara yang sudah sangat berbahaya.

– –

Turunnya permintaan China terhadap batu bara Indonesia lebih disebabkan besarnya dampak lingkungan termasuk polusi udara yang sudah sangat berbahaya. Itu disebabkan oleh penggunaan batu bara dalam proses industri untuk mengurangi dampak lingkungan yang diperkirakan akan memberikan dampak kerugian keuangan yang di luar bagi pemerintah China.

China sudah mengonversi penggunaan batu bara ke penggunaan energi terbarukan termasuk pembangunan solar power. Kapasitas solar power yang dibangun China merupakan yang terbesar di dunia, bahkan diibaratkan mampu menyuplai seluruh kebutuhan energi di Inggris.

Mau tidak mau, kita harus menerima kenyataan bahwa komoditas ekspor Indonesia sebagian besar masih ditopang oleh pendapatan ekspor komoditas bahan baku, termasuk mineral dan komoditas pangan.

Meskipun tekstil masuk salah satu produk andalan Indonesia, akan tetapi berdasarkan hasil interview saya dengan salah satu pelaku pasar di sektor garmen, menyebut kebanyakan perusahaan garmen di Indonesia yang khusus menangani permintaan perusahaan brand besar termasuk Zara dan lain-lain menggunakan tekstil yang diimpor dari China.

Hal itu disebabkan kualitas tekstil dari China jauh lebih bagus dari kualitas dalam negeri. Itu berarti meskipun Indonesia mengekspor produksi garmen yang cukup signifikan, akan tetapi tidak memberikan sumbangsih yang berharga terhadap penguatan rupiah karena bahan baku utamanya juga diimpor.

Ilustrai ekspor impor di pelabuhan (Foto: Pixabay)

Faktor Kedua adalah banyaknya pengusaha (pengekspor) yang memarkir hasil transaksinya di bank luar negeri, termasuk paling banyak di Singapura dan Hongkong. Ini menyebabkan meskipun nilai ekspor besar akan tetapi uang itu tidak masuk ke dalam negeri.

Kebanyakan pengusaha ini sengaja menyimpan hasil transaksi mereka di luar negeri karena besaran pajak yang sangat sedikit, bahkan tidak ada pajak apabila dibandingkan dengan besaran pajak yang diterapkan pemerintah Indonesia.

Faktor Ketiga, yaitu kita dalam masa pembangunan yang membutuhkan modal yang besar, mau tidak mau kita membutuhkan bantuan dana dan harus mengimpor bahan-bahan industri termasuk teknologi yang di butuhkan untuk pembangunan.

Ini menyebabkan kita harus membelajakan cadangan USD yang kita miliki sehingga USD yang tersedia menjadi lebih sedikit. Di sinilah hukum pasar berlaku di mana permintaan lebih besar dari suplai, maka nilai barang dan jasa akan naik.

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi (Foto: Ingram Publishing/Thinkstock)

Tidak Usah Cemas Berlebihan

Anda sebenarnya tidak perlu mencari siapa yang salah sehingga nilai rupiah makin terjerembab. Karena masalah ini sudah terstruktur dan sistematis pelemahannya sejak 1970-an. Intinya, percuma isu ini menjadi komoditas politik meskipun pastinya tidak bisa dielakkan.

Di samping itu, masalah ini juga tidak perlu direspons secera berlebihan karena sudah banyak negara yang bahkan sengaja menurunkan nilai tukar mata uangnya termasuk China dan Jepang untuk menarik pelaku pasar internasional berinvestasi di negara mereka.

Pelemahan rupiah sekarang ini bukanlah sesuatu yang bisa dielakkan karena pada kenyataannya kita bukan negara yang berbasis pada sektor industri akan tetapi masih konvensional.

– –

Pergerakan ekonomi ke arah industri hanya bisa dicapai apabila faktor-faktor pendukung pembentukan industri dalam negeri juga memadai.

Kalau pemerintah mengerem pembangunan hanya karena mencemaskan dampak politik faktor pelemahan rupiah terhadap dolar, maka sudah pasti dampak 5-10 tahun ke depan akan lebih besar.

Logika sederhananya, hanya dengan peningkatan produksi ekspor, insentif pajak, dan perbaikan infrastruktur pariwisata yang mampu membuat rupiah menguat. Tanpa itu, jangan berharap rupiah akan bisa bergerak membaik.