Menakar Siapa Pemenang Pilpres 2019

Ilustrasi (Foto: Muhammad Faisal Nu’man/kumparan)

Tinggal 141 hari lagi menuju kontestasi politik terbesar di Indonesia. Pada pesta kali ini, rasa dan aroma pemilihan Pilpres 2014 dan 2019 masih terasa sama, tidak hanya karena pasangan yang berkontestasi masih sama cuma beda pasangan, juga karena strategi yang dipakai masing-masing pasangan juga masih sama.

Jokowi sebagai petahana memiliki peluang yang sangat besar untuk memenangkan pertandingan, karena memiliki hasil kinerja yang bisa dijadikan bahan kampanye. Selain itu Jokowi, juga sebagai pemilik kekuasaan tertinggi di Indonesia, bisa melakukan program-program pembangunan dengan mengalokasi anggaran negara, yang tentunya bisa menguntungkan diri. Selain itu, Jokowi tidak pernah lepas dari liputan media yang secara otomatis menaikkan ‘public recognition’ atau pengenalan publik pada sosok dan kinerjanya.

Dalam teori politik ini biasa disebut dengan automatic campaign, atau dalam teori bisnis biasa dikaitkan dengan words of mouth. Meskipun mungkin terlalu ekstrem untuk mengidentikkan Jokowi dengan words of mouth karena pada tahap ini ‘merek atau barang’ harus memiliki nilai yang dijunjung sangat tinggi nilainya seperti misalnya Apple. Pada faktanya memang kedua kubu memiliki pendukung yang sangat fanatik, yang benar-benar sudah menutup mata pada informasi yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, pemilih ini lah yang kenal pemilih emosional.

Dukungan partai politik yang di klaim bisa mengantongi suara 52,21% diduga kuat mampu membawa kemenangan ke pihak Jokowi-Ma’ruf. Sedangkan dari pihak Prabowo-Sandi, mereka terkendala dengan banyak hal mulai dari biaya logistik kampanye yang besar, kurangnya dukungan dari pengusaha yang memiliki sifat seperti kambing di musim hujan yang akan selalu mencari tempat berteduh. Melihat peluang Jokowi yang lebih besar, kemungkinan dukungan dari pengusaha-pengusaha kakap akan mengalir keras ke kubu mereka. Selain itu kubu Prabowo-Sandi juga tidak memiliki dukungan media yang cukup, karena media-media sebagian besar sudah berkiblat ke pihak Jokowi. Masalah yang lain adalah dukungan suara Prabowo sudah mencapai titik jenuh, akan sangat susah meningkatkan persentase suaranya karena sudah 12 tahun dibentuk sedemikian rupa. Itu juga yang sepertinya menyebabkan Prabowo jarang diliput media ketimbang Sandiaga Uno yang selalu muncul dengan slogan-slogan yang mengernyitkan dahi.

Semua ucapan Sandi yang rada-rada unik ini saya pikir masuk di salah satu strategi kampanyenya, karena kalau ia mengucapkan kalimat atau kata-kata yang biasa-biasa saja, maka efek boom! atau ledakan di media tidak akan cukup bombastis untuk mengangkat pemberitaannya.

Kunci kemenangan Prabowo sebenarnya ada pada Sandi, karena hanya Sandi yang mampu menaikkan suara pasangan ini. Pengenalan publik ‘public recognition’ yang ditawarkan oleh Sandi cukup ampuh untuk jangka pendek akan tetapi akan buruk untuk karier politiknya di jangka panjang. Karena materi yang ia tawarkan lebih kepada negatif – non value reconition atau pengenalan yang memiliki nilai yang negatif bahkan menghiasi meme sosial media yang membuatnya menjadi bahan tertawaan netizen. Mereka rupa manusia secara alami lebih suka mendengar berita baik dari berita buruk.

Prabowo-Sandi sepertinya tidak mampu mengemas materi kampanye mereka dengan cara yang apik. Pihak mereka sepertinya ingin menyerang pihak Jokowi dari segi ekonomi, pembangunan, dan lapangan kerja, tapi mereka sendiri gagap dalam membangun bahan kampanyenya.

Pendukung-pendukung mereka yang banyak berseliweran di media talkshow TV dan ajang debat benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicara, apalagi kalau sudah masuk masalah teknis ekonomi, mereka benar-benar dangkal pengetahuannya. Kalau ditelisik dari latar belakangnya, mereka bukanlah dari kalangan ekonom tapi dari bidang yang sangat jauh dari ekonomi seperti kedokteran, fisika, dan masih banyak lagi.

Mereka ibaratnya menyuruh tentara yang tidak tahu cara memakai senapan ke medang perang. Akibatnya tim mereka juga tidak mampu mengemas materi kampanye dengan baik. Kesalahan mereka juga ada pada target pasar mereka yang mengabaikan pemilih rasional, sedangkan materi kampanye yang ditawarkan selalu ditujukan pada pemilih emosional. Padahal persentase dari golongan ini, secara teori hanya mewakili sepertiga dari pemilih, meskipun ada juga sepertiga pemilih rasional emosional. Sepertinya mereka masih terjebak pada euphoria pemilihan Pilgub Jakarta kemarin, mereka lupa bahwa kemenangan Anies-Sandi di Pilgub Jakarta didapat dari pemilih emosional dan rasional emosional, mereka gampang menang karena lawannya adalah non-muslim, non-Jawa/non-betawi’. Akan tetapi pada ajang ini lawan mereka adalah dari kalangan Islam-Jawa sehingga strategi populismenya tidak akan sanggup menaikkan suara mereka secara signifikan.

Padahal kalau mau dicerna secara mendalam, pihak Jokowi-Ma’ruf sepertinya juga terjebak dalam permainan kubu sebelah. Dari beberapa ucapan dan gestur komunikasi politik Jokowi belakang ini mulai dari ‘sontoloyo’, genderuwo’, ’tabok’, sebenarnya tidak perlu. Materi kampanye pasangan ini sangat melimpah tinggal dikemas dengan baik. Jadi tidak perlu mengikuti irama permainan lawan.

Sayangnya pihak pasangan Jokowi-Ma’ruf sepertinya tidak mampu mengemas materi hasil kinerja Jokowi dengan baik. Mereka terlalu terlena dengan posisinya sebagai petahana sehingga mereka lupa sebernnya celah mereka untuk diserang juga sangat banyak. Cuma saja pasangan Prabowo-Sandi tidak mau memakai orang baru dan strategi baru dalam kampanye mereka, sehingga mereka terjebak dengan strategi yang sama. Sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf dikelilingi oleh orang-orang yang gemar membuat pencitraan karena mereka mungkin merasa bahwa mereka sudah menang, sehingga prinsipnya jadi ‘asal kelihatan bagus’ – ‘asal bapak senang’.

Kelalaian seperti ini yang tidak bisa ditangkap oleh kubu Prabowo-Sandi. Kedua belah pihak sepertinya telah terjebak dalam strategi dan materi kampanye politik yang tidak berkualitas sehingga pendidikan demokrasi yang berkualitas juga gagal untuk ditampilkan. Materi kampanye yang ditawarkan tidak berkualitas dan masih di level saling menyerang kejelekan lawan, mirip-mirip lah pasangan yang putus yang saling mengumbar kesalahan mantan.

Kalau melihat dari strategi kedua kubu, saya merasa selama pasangan Prabowo-Sandi tidak mau mengubah strategi kampanye mereka saya memiliki keyakinan akan sangat susah mereka memenangkan Pilpres 2019.

Sedangkan apabila pihak Jokowi-Ma’ruf terus membuka kelemahan mereka dan tidak memanfaatkan materi capaian kinerja selama 4 tahun dengan baik, maka bisa saja mereka kehilangan suara dari pemilih rasional yang cenderung golput.