Memahami Volatilitas Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

Ilustrasi (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Rupiah menunjukkan penguatan yang signifikan terhitung sejak 3 Desember 2018, setelah lima bulan (Juni-Oktober) terus menerus keok melawan dolar. Sinyal penguatan rupiah sudah dimulai sejak 31 Oktober 2018. Sejauh ini nilai tukar rupiah sudah menguat 7.6 persen terhitung sejak peak point di Oktober 2018 sampai dengan 11 Januari 2019 (Lihat graf 1).

Nilai kurs Rupiah bahkan paling menonjol di antara mata uang Asia lainnya dan kemungkinan besar nilai Rupiah akan terus terapresiasi di kuarter pertama 2019.

Data diolah dari Bank Indonesia.

Ada dua faktor termasuk eksternal dan internal yang patut dicermati menyebabkan volatilitas Rupiah terhadap Dolar. Kita mulai dengan faktor eksternal.

Faktor Eksternal

Perekonomian Indonesia memiliki sensitivitas yang relatif cukup tinggi terhadap kondisi perekonomian global. Terutama perubahan kebijakan yang terpusat pada dua negara ekonomi besar dunia termasuk Amerika Serikat dan China.

Perang dagang antara Amerika dan China memengaruhi pergerakan modal dan liquid cashdi antara dua negara dan negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan kuat negara tersebut. Perang dagang secara sederhana dapat dipahami adalah peningkatan tarif pajak terhadap barang-barang dari negara-negara tertentu.

Kenaikan pajak menyebabkan penghasilan perusahaan dan negara menjadi tergerus, yang pada akhirnya menyebabkan bisnis tidak akan bisa berkembang dan melakukan ekspansi.

Terus, apa hubungannya dengan rupiah? Ekspor Indonesia sangat tergantung pada permintaan negara-negara mitra dagang terbesar Indonesia termasuk Amerika Serikat dan China.

Sejak perang dagang Amerika-China berlangsung, kedua negara ini mengurangi permintaannya terhadap produk dan komoditas ekspor Indonesia. Itu juga yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia tahun 2018, termasuk salah satu performa terburuk sejak pemerintahan Jokowi. Sebenarnya ini bisa diantisipasi jauh-jauh hari, dengan melalukan diversifikasi negara tujuan ekspor.

Pertemuan bilateral Presiden AS dan Presiden China (Foto: Reuters/Carlos Barria)

Ketegangan perang dagang ini menyebabkan perdagangan kurs mata uang dunia bergejolak termasuk rupiah. Terlebih lagi kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump susah untuk ditebak oleh pasar, sehingga masing-masing pelaku pasar juga sangat berhati-hati.

Keputusan US dan China untuk menunda perang dagang selama tiga bulan, terhitung sejak Desember 2018, untuk meregonisiasi kembali hubungan dagang antara kedua negara tersebut, memberikan angin segar untuk pasar keuangan. Keputusan AS ini tidak terlepas dari outlook ekonomi Amerika di kuarter 3 dan 4, yang menunjukkan pelemahansignifikan. Oleh karena itu, Bank Sentral Amerika menunda untuk menaikkan suku buka acuan.

Keputusan Bank Sentral Amerika ini menyebabkan pelaku pasar memindahkan uang mereka ke negara-negara yang menawarkan suku bunga yang lebih atraktif. Pergerakan arus modal investasi jangka pendek inilah yang disebut dengan Hot Money atau uang panas.

Pergerakan Hot Money ini yang menyebabkan rupiah tumbang secara besar-besaran di tahun 2018, karena pelaku pasar keluar dari pasar keuangan Indonesia. Tapi mereka jugalah yang menyebabkan kembali ke Indonesia di akhir tahun 2018, sehingga menyebabkan penguatan rupiah.

Faktor Internal

Perekonomian Indonesia secara fundamental cukup stabil, itu biasa dilihat dari laju inflasi yang cenderung rendah 3.10 persen di kuarter 4, 2018. Pertumbuhan ekonomi year to year (YoY) terhitung stabil di atas 5.15 persen. Oleh karena itu, secara outlook makro cukup memuaskan.

Selain itu kebijakan moneter Bank Sentral Indonesia yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Langkah Bank Indonesia ini baru kelihatan dampaknya setelah 2 bulan. Hal ini merupakan peristiwa yang biasa, karena suatu kebijakan membutuhkan waktu untuk bisa terlihat pengaruhnya. Dalam teori ekonomi ini disebut dengan time lags.

Basis bunga yang cukup tinggi ini menyebabkan pasar moneter Indonesia cukup menarik bagi pelaku pasar. Oleh karena itu, mereka kembali memasuki pasar keuangan Indonesia di akhir awal November 2018. Inilah yang menyebabkan rupiah mengalami penguatan.

Faktor lain yang menyebabkan pelemahan rupiah di tahun 2018, adalah harga minyak dunia yang naik secara besar-besaran. Bahkan merupakan kenaikan tertinggi sejak 2014. Harga minyak ini mencapai US$ 80/barel. Ini menyebabkan neraca dagang Indonesia jadi terseok-seok.

Akan tetapi baru-baru ini, harga minyak mentah dunia sudah mengalami penurunan sekitar US$ 51.59/barel yang tentunya memberikan angin besar untuk neraca dagang Indonesia. Dalam artian, pemerintah tidak perlu mengocek dolar yang lebih besar untuk mengimpor minyak. Menurunnya harga minyak dunia ini turut memengaruhi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Prediksi

Data diolah dari Bank Indonesia

Dengan penghitungan probabilitas sederhana, nilau tukar rupiah sebenarnya cukup memiliki ruang gerak cukup lebar dan bisa mencapai nilai Rp 12.000,-13.000. Tren penguatan rupiah sekarang ini sudah cukup tergambar dengan baik, meskipun harusnya performa rupiah jauh lebih baik dari yang sekarang (Lihat graf 2).

Akan tetapi, kalau kita melihat pergerakan rupiah secara historis mulai dari 2 Januari 2001 sampai 2030, ada kecenderungan rupiah akan terus terdepresiasi mencapai nilai Rp 17.900 di tahun 2030. Ini hanya perkiraan kasar, dengan melihat pola pergerakan rupiah yang hanya dibantu dari segi kebijakan moneter. Outlook ini tentu bisa diperbaiki, bila neraca dagang Indonesia diperbaiki secara simultan.

Hal-hal yang Perlu Diantisipasi

Nilai tukar rupiah akan terus mengalami volatilitas yang sangat tinggi terhadap dolar. Ini disebabkan, kebijakan pemerintah masih sangat bergantung pada kebijakan fiskal dan moneter yang sifatnya sementara. Penguatan nilai tukar rupiah selama ini, masih didominasi oleh campur tangan Bank Indonesia, sedangkan pemerintah belum sanggup memperbaiki neraca dagang kita yang terus mengalami defisit.

Selain itu, kita juga terjebak pada pola konsumsi energi yang memiliki tren konsumsi yang terus meningkat sedangkan produksi energi cuma mampu memenuhi 25 persen kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu 75 persen kebutuhan harus diimpor, yang tentunya membutuhkan dolar untuk membelinya. Faktor ini akan terus menggerus nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, mau tidak mau, pemerintah harus mengatasi masalah ini.

Pemerintah juga harus mewaspadai arus hot money di Indonesia bersifat sementara. Sangat besar kemungkinan Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunga acuan di tahun 2019, kemungkinan pada kuarter ke-2 dan ke 3 tahun 2019. Selain itu negosiasi perang dagang US dan China akan kelihatan progresnya pada kuarter ke-2 tahun 2019, yang kemungkinan tidak akan banyak mengalami perubahan, mengingat pemilihan presiden US yang sudah dekat. Dengan demikian, saya sangat yakin arus uang panas akan kembali keluar dari pasar Indonesia.