Memahami Pasar Keuangan Dunia dan Pengaruhnya pada Nilai Tukar Rupiah

Illustrasi (Sumber Photo: Willy Kurniawan/Reuters)

Kita perlu memahami kondisi pasar keuangan global, termasuk kondisi pasar keuangan Amerika Serikat dan hubungannya dengan kondisi nilai tukar rupiah.

Pada prinsipnya tidak ada gejolak ekonomi yang berlangsung secara tiba-tiba. Akan tetapi, pasti diawali dengan munculnya beberapa peristiwa yang membawa letupan besar. Berikut adalah tahapan beberapa peristiwa tersebut:

Tahap 1: US Financial Crisis 2008

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah sekarang ini dipengaruhi oleh rentetan peristiwa di pasar keuangan global. Ini dimulai ketika US financial crisis yang menyebabkan krisis keuangan dunia di tahun 2007-2008.

Krisis ini disebabkan oleh pemberian kredit oleh bank dengan bunga sangat rendah dan bahkan hampir tidak ada (0) kepada peminjam untuk membeli rumah tanpa melihat kemampuan keuangan orang yang meminjamnya. Akibatnya, nasabah dengan kemampuan keuangan yang buruk tidak mampu mengembalikan utangnya.

Ini berarti bisnis tidak bisa berjalan dengan baik. Rumah yang dibangun secara besar-besaran tidak bisa dijual sedangkan jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk membangun proyek tersebut sangat besar. Uang yang sudah dihabiskan di investasi pembangunan (rumah) tersebut tidak bisa dikembalikan.

Sehingga semua bisnis/usaha yang berkaitan dengan proyek tersebut juga mengalami kemacetan keuangan termasuk bank-bank yang mengeluarkan pinjaman kepada pada pengusaha yang ikut berinvestasi di proyek tersebut. Karena pengusaha tersebut tidak mampu mengembalikan pinjaman mereka, bank-bank pemberi pinjaman juga mengalami masalah keuangan karena mereka sudah tidak mampu membiayai rotasi pembiayaan jenis usaha mereka yang lain.

Secara singkatnya banyak perusahaan yang kemudian gulung tikar, sementara pengusaha sendiri merupakan pembayar pajak utama dan sumber pendapatan pemerintah.

Tahap 2: Quantitative Easing (2008-2013)

Lesunya kondisi perekonomian Amerika Serikat juga berimplikasi pada negara-negara lain termasuk bank-bank negara lain yang meminjam pada bank-bank Amerika yang bermasalah.

Untuk mengatasi kelesuan ekonomi tersebut, pemerintah Amerika Serikat kemudian mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan Quantitative Easing yang dimulai pada November 2008.

Quantitative Easing adalah kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral Amerika (pada waktu itu di bawah instruksi Ben Bernanke) untuk memasok uang ke bank-bank yang bermasalah. Tujuan utamanya adalah untuk menstimulus ekonomi agar bisa terus tumbuh.

Perlu dicatat tambahan uang tersebut (fresh money) tidaklah gratis tapi berbentuk pinjaman yang pada akhirnya harus dikembalikan. Langkah pertama yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat pada saat itu dengan membeli aset-aset beracun dari pengusaha dan bank-bank bermasalah.

Jumlah uang (US Dollar) yang disalurkan ke pasar keuangan sudah sangat besar hingga muncul istilah Quantitative Infinity, Akibatnya nilai dolar amerika jadi melemah, karena pasar merespons banyaknya dolar yang beredar di pasaran (lihat graph dibawah).

Grafik Nilai Tukar Dolar Amerika (Sumber Trading Economics)

Tahap 3: Tappering (2013)

Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat tentunya berimplikasi pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh AS untuk aktivitas impor mereka. Untuk mengatasi pelemahan nilai tukar dolar tersebut, pemerintah Amerika Serikat melalui Bank Sentral Amerika kemudian mengambil kebijakan untuk mengurangi jumlah stimulus atau suplai uang ke pasar keuangan pada Desember 18, 2013.

Kebijakan tapering ini ditempuh dengan mengurangi jumlah pasokan uang ke pasar keuangan serta dengan meningkatkan suku bunga acuan dengan harapan uang yang beredar di luar Amerika akan kembali ke pasar keuangan Amerika Serikat. Dengan demikian nilai tukar dolar akan menguat.

Kebijakan ini memberikan reaksi pada para investor yang mengambil utang dari pemerintah Amerika Serikat. Reaksi pasar ini kemudian dikenal dengan Tapper Tantrum.

Tahap 4: Taper Tantrum (2013 – 2018)

Di tahun 2013, mata negara-negara sedang berkembang dengan resiko tinggi (fragile five) termasuk Indonesia, India, Brazil, Turki, dan Afrika Selatan sudah mengalami tekanan yang cukup signifikan dari pasar keuangan global akibat antisipasi kebijakan dari Bank Sentral Amerika. Peristiwa ini sering diasosiasikan dengan dikenal istilar taper tantrum.

Taper tantrum adalah istilah yang mulai muncul sejak tahun 2013, ketika Bank Sentral Amerika berencana untuk menaikkan suku bunga atau treasury yieldTreasury yield sendiri merupakan bunga yang harus dibayarkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk meminjam uang dalam jangka waktu tertentu.

Kebijakan tersebut biasanya diambil ketika pemerintah membutuhkan dana besar untuk membiayai keperluan pemerintah termasuk mambiayai pembangunan. Kebijakan tersebut bisa dilakukan melalui tiga instrumen kebijakan termasuk Treasure Bills, Treasure notes,dan Treasure Bonds.

Treasury bills sendiri merupakan utang jangka pendek yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat dengan jangka waktu kurang dari setahun. Nilai utang tersebut mulai dari US$.1000 – $5 juta dan perhitungan bunga biasanya dilakukan ketika utang mendekati jatuh tempo.

Treasure note adalah utang jangka menengah (1-10 tahun) dengan suku bunga tetap. Sedangkan Treasury Bonds adalah utang jangka panjang (lebih dari 10- 30 tahun) dengan suku bunga tetap. Treasury bonds merupakan instrumen paling aman dan bisa dibeli lansung ke Bank Sentral Amerika Serikat atau Bank bersangkutan dan broker.

Dampak Pada Nilai Tukar Rupiah

Dari diskusi di atas secara sederhana bisa dipahami bahwa sentimen pasar keuangan global sangat dipengaruhi oleh kebijakan Bank Sentral Amerika terutama kebijakan yang berhubungan dengan pengetatan jumlah uang (US$) yang beredar di pasaran. Pertanyaannya adalah kenapa ini bisa menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar.

Jawaban sederhananya adalah pemerintah Indonesia tidak bisa mengatasi besarnya defisit transaksi berjalan yang sudah dimulai pada kuarter ke2 tahun 2011 dan semakin melebar di kuarter ke 2 tahun 2013 mencapai -42% dari PDB (liat graph 2) disertai dengan kebijakan moneter yang cukup longgar terlihat dari suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Sentral Indonesia.

Secara sederhana bisa dipahami pendapatan pemerintah jauh lebih rendah dari pengeluaran, sehingga pemerintah harus mencari sumber dana baru (utang) untuk membiayai program mereka.

– –

Di sisi lain pemerintah juga sangat berharap pada masuknya investasi luar ke pasar Indonesia. Tetapi masuknya investasi tersebut sangat dipengaruhi oleh sehat tidaknya kondisi keuangan suatu negara yang terlihat dari kondisi neraca keuangan dan stabilitas politik.

Defisit transaksi berjalan mengindisikan bahwa pemerintah mengalami masalah keuangan. Bisa disimpulkan bahwa pelemahan rupiah secara sederhana disebabkan oleh besarnya impor daripada ekspor. Contoh paling real adalah besarnya jumlah BBM yang harus diimpor sementara harga komoditas yang menjadi andalan ekpor melemah. Kemudian pendapatan pemerintah terutama dari fiskal jauh lebih rendah dari pengeluaran menyebabkan defisit neraca berjalan.

Dan yang terakhir adalah stabilitas politik setelah pilkada terutama pemilihan gubernur (DKI Jakarta) dan Pilpres 2018 mempengaruhi investor untuk menarik uangnya di pasar keuangan Indonesia didukung oleh kebijakan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika turut berkontribusi pada pelemahan nilai tukar Rupiah.

Saya berkeyakinan bahwa apapun kebijakan yang diambil pemerintah sekarang ini hanya bersifat seperti polisi tidur atau sementara. Karena masalah utamanya terletak pada rendahnya pendapatan negara dari sektor ekspor dan ini hanya bisa dibenahi apabila instrumen kebijakan pendukung pembangunan industri dalam negeri diperkuat terlebih dahulu.