Mawas Politik Perpecahan

Ilustrasi gambar perang Suriah (Photo, Reuters / Ammar Abdullah)

Karut-marut kondisi politik Indonesia sudah mengarah pada perpecahan antar-masyarakat. Kondisi ini sudah terasa semenjak politisasi agama menjadi komoditas paling laris di pemilihan Gubernur Jakarta kemarin.

Tidak bisa dielakkan adanya indikasi salah satu faktor yang menyebabkan kejatuhan Ahok karena adanya dorongan massa yang mempolitisasi isu agama ke ranah politik. Sementara di lain pihak, beberapa elite politik memanfaatkan kondisi ini untuk meraih simpati untuk mencapai tujuan politiknya.

Ritme strategi politik ini masih sangat khas baunya menjelang Pilpres 2019. Pembakaran bendera HTI oleh salah satu oknum serasa memantik bara dalam sekam. Saling menyalahkan menjadi topik politik yang tidak ada habisnya.

Kalau politik perpecahan dan kebencian sudah begitu mengakar, jangan heran kalau suatu hari negara yang dibangun oleh darah pahlawan menjadi negara yang sibuk bertengkar dengan sesama saudaranya.

– –

Masing-masing memiliki argumentasi masing-masing. Sementara itu, elite politik baik itu dari pihak penguasa dan pihak oposisi, seakan-akan enggan untuk mencari jalan tengah untuk memecahkan masalah ini. Sebaliknya, ini menjadi bahan gorengan politik yang laris manis.

Dagangan politik ini sudah benar-benar menyebabkan kegaduhan yang tidak menutup kemungkinan akan mengarah pada perpecahan yang semakin tajam ke depannya. Semakin hari semakin tidak jelas apa yang diperjuangkan, apakah nafsu politik, pengakuan atau keselamatan umat.

Jangan lupa konflik di Suriah dan Arab Spring itu dimulai dari hal yang kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalur hukum, tapi kemudian dijadikan komoditas politik elite yang ingin merebut kekuasaan dan mendapat dukungan dari negara-negara lain, sehingga menjadi eskalasi konflik yang luar biasa.

Salah satu teman kantor saya yang kebetulan warga negara Suriah, mengisahkan hidup mereka sebelum masa konflik terjadi sangat damai. Bahkan Suriah dijadikan sebagai tujuan destinasi wisata peradaban Islam.

Tetapi, setelah perang berlangsung selama 4 tahun, warisan peradaban itu terganti menjadi warisan kekerasan yang tidak berkesudahan. Meskipun perang sudah berakhir, akan tetapi bara-bara emosi akibat perang masih sangat berbekas. Suriah yang dulunya kaya dengan kebudayaan dan hidup dalam kondisi aman harus porak-poranda setelah membenturkan sesuatu yang sakral dengan ranah politik.

Begitu pun dengan negara Libya yang sekarang menjadi sarang teroris. Atau konflik syiah dan sunni di Iraq. Masing-masing merasa paling benar dan menghalalkan segala hal untuk mengeklaim apa yang dirasa paling benar.

Melegitimasi kelompok tertentu lebih benar dari kelompok lain menjadi alat politik perpecahan yang sangat ampuh. Kita tidak boleh lupa bagaimana Hindia Belanda memecah masyarakat Indonesia dengan politik divide et impera yang menyebabkan bangsa ini dijajah ratusan tahun.

Politik perbenturan massa yang seolah-oleh ingin mengotakkan pemerintah sebagai golongan yang tidak mendukung aliran agama tertentu sudah semakin kuat mencuat di sosial media. Sementara itu besarnya dorongan oleh golongan tertentu untuk membentuk opini bahwa agama harus menjadi bagian dari politik juga semakin keras dengan mem-framing-kan asing dan liberal seolah-olah mengancam pemahaman umat.

Apakah kita lupa bahwa kedamaian, kemerdekaan dan bebas dari rasa takut itu adalah harga yang sangat mahal.

– –

Framing yang sama juga berembus dengan kencangnya tentang sekularisasi negara, yang seolah-olah menggambarkan adanya unsur campur tangan negara untuk memisahkan agama tertentu dengan politik di Indonesia. Padahal kalau mau dinalar, sebagian besar partai politik di Indonesia itu berhaluan Agama.

Argumentasi semacam ini semakin hari semakin kusut. Isu sedikit saja bisa menjadi bahan yang seolah-olah sangat substantif, penting, bahkan seperti menghalalkan cacian, makian, dan kekerasan untuk memperjuangkan argumentasi mereka. Yang membela pemerintah seolah-olah adalah kaum munafik dan tersesat, sementara yang membela pihak yang berseberangan dianggap radikal.

Semua dipihak seolah-olah, juga sibuk membela diri. Kalau sudah begini emosi masyarakatlah yang dijadikan kayu bakar. Apakah kita lupa bahwa kedamaian, kemerdekaan dan bebas dari rasa takut itu adalah harga yang sangat mahal.

Belum lagi banyaknya bencana yang datang silih berganti yang seharusnya mengeratkan tangan kita untuk saling membantu, bukan menjadikan isu bahwa kelompok tertentu berbuat lebih banyak atau lebih baik dari kelompok yang lain. Kemudian diperparah di ranah logika saling menyalahkan.

Kalau politik perpecahan dan kebencian sudah begitu mengakar, jangan heran kalau suatu hari negara yang dibangun oleh darah pahlawan menjadi negara yang sibuk bertengkar dengan sesama saudaranya.