Inflasi 1,4 Juta Persen dan Rusaknya Ekonomi Venezuela

Demo di Venezuela (Foto: REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)

Beberapa bulan lalu saya pernah menulis tentang perekonomian Venezuela yang menuju kebangkrutan. Sepertinya itu bukan isapan jempol belaka. Menurut laporan IMF yang baru-baru ini dipublikasikan, inflasi di Venezuela mencapai 1,37 juta persen.

Sebagai gambaran, harga 1 kilogram tomat bisa mencapai di atas 6 juta bolivar, lalu seekor ayam dihargai 15 juta bolivar, bahkan harga secangkir kopi bisa mencapai 2 juta bolivar.

Angka inflasi yang super tinggi ini berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah minus 18 persen. Masyarakat sudah enggan menggunakan uang kas sebagai alat transaksi dan lebih memilih untuk bertransaksi dengan cara barter. Pergerakan inflasi Venezuela mencapai 13 ribu persen dalam kurung waktu 10 bulan saja.

Sementara indeks harga konsumen diperkirakan naik sekitar 10 juta persen. Kerusakan ekonomi yang begitu parah ini berawal dari kebijakan yang serampangan. Bayangkan saja, ketika Presiden Maduro baru saja menjabat, ia menaikkan standar gaji terendah sebanyak 24 kali dan itu dibiayai dengan mencetak uang Bolivar. Ini menyebabkan nilai mata uang tersebut terdepresiasi seketika.

Presiden Maguro berusaha menekan besarnya inflasi mendevaluasi mata uangnya sebesar 95 persen atau menghilangkan lima nol (00000). Akan tetapi, usaha ini sia-sia saja. Hiperinflasi sudah sangat besar, dan tidak mungkin mengatasinya dengan cara yang cepat.

Di samping itu, kebijakan reformasi keuangan ini tidak diikuti dengan pendekatan yang masuk akal. Karena ketika Presiden Maguro mendevaluasi mata uangnya, di saat yang sama ia juga kembali menaikkan standar gaji sebesar 3500 persen, serta menaikkan pajak korporasi dan bisnis.

Kebijakan yang sudah bisa dipastikan akan membunuh pertumbuhan usaha di negara tersebut.

Kebijakan Maduro ini, saya ibaratkan mirip dengan sopir angkot ugal-ugalan atau ahli ekonomi menyebutnya dengan kesalahan manajemen. Hampir tidak ada perhitungan matematis dan rasional akibat dari kebijakan tersebut. Meskipun, Maduro mendapatkan tekanan yang luar biasa dari dalam dan luar negeri, ia masih tetap kukuh untuk mempertahankan kebijakannya.

Kebijakan Maduro ini, saya ibaratkan mirip dengan sopir angkot ugal-ugalan atau ahli ekonomi menyebutnya dengan kesalahan manajemen.

– –

Dengan kondisi laju inflasi yang begitu besar, saya bisa memperkirakan perekonomian Venezuela akan mirip perekonomian Zimbabwe dalam kurung waktu 1-2 tahun. Sebagai catatan, inflasi di Zimbabwe mencapai 11,2 juta persen di tahun 2008.

Ini didukung dengan kondisi politik yang buruk, masyarakat Bolivia dan investor asing tidak memiliki kepercayaan pada pemerintahan Maduro. Angka korupsi yang begitu luar bisa juga mempengaruhi rendahnya tingkat kepercayaan kepada pemerintah.

Venezuela adalah contoh negara yang kaya dengan sumber daya alam bahkan termasuk salah satu pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, tapi bangkrut karena keserakahan penguasa dan kebijakan yang ugal-ugalan, menyebabkan negara tersebut terpuruk pada fase di mana sangat susah untuk memperbaikinya.

Satu-satunya cara yang bisa diambil untuk memulihkan perekonomian Venezuela secara bertahap adalah dengan mengganti Presiden Maduro. Dengan demikian kepercayaan pasar bisa tumbuh, tapi meskipun harus ada pergantian rezim jangan sampai pergantian itu hanya mirip ganti baju.

Dalam artian, pucuk pemimpinnnya terganti tetapi orang yang berperan di dalam sistem adalah orang yang sama.