Fanatisme dan Hilangnya Nalar

Persija vs Persib. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan & ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Kematian Haringga Sirla, salah satu anggota ‘The Jak Mania’, benar-benar di luar nalar. Betapa sadis penyiksaan yang begitu nyata dipertontonkan, direkam, dan dipublikasikan seolah-olah sebagai tontonan hiburan yang layak dinikmati.

Pelaku-pelaku yang masih kelihatan sangat muda sama sekali kehilangan rasa keprikemanusiaan, empati, dan belas kasihan hanya karena fanatisme olahraga yang berlebihan.

Padahal salah satu prinsip dari olahraga itu sendiri sangat menjunjung tinggi sportivitas. Akan tetapi sepertinya itu tidak tercermin dari perilaku fanatisme pendukungnya. Bahkan sikap fanatisme yang dipertontonkan jauh lebih buruk dari fanatisme pelaku teroris.

Fanatisme pelaku teroris biasanya memiliki tujuan yang ingin dicapai dan tersusun secara sistematis. Dalam artian, paham yang disematkan itu butuh waktu lama untuk sampai pada level fanatik.

Sedangkan fanatisme pendukung (fans), dari segi pendekatan teori bisnis pemasaran, adalah tingkatan paling tinggi yang hanya bisa dicapai setelah kesetiaan (customer loyalty) pada merek dicapai. Itu pun hanya bisa dicapai apabila konsumen mencapai tingkat kepuasan tertinggi pada merek tersebut. Akan tetapi teori ini tidak bisa dipakai pada kasus fanatisme suporter bola di Indonesia.

Apa itu fanatisme?

Menurut Oguzhan Altungul, fanatisme dalam sepak bola adalah suatu perasaan simpati dan rasa cinta yang berlebihan dan hanya terkonsentrasi pada merek, institusi, serta individu tapi mengabaikan nilai-nilai baik dan benar di lingkungan mereka. Fanatisme pada tataran ini paling sering terjadi pada tingkatan agama, politik, dan sepak bola.

Pada dasarnya, secara alami manusia dibekali oleh rasa simpati dan empati. Empati mengarah pada kemampuan untuk bisa mengidentifikasi dan mengerti situasi dan perasaan orang lain tanpa harus ikut hanyut merasakan situasi tersebut. Orang yang memiliki kemampuan empati biasanya akan mampu berpikir lebih jernih dan memberikan solusi yang lebih rasional. Ini berbeda dengan orang yang mengandalkan kemampuan simpati.

Orang yang memiliki kemampuan empati biasanya akan mampu berpikir lebih jernih dan memberikan solusi yang lebih rasional.

– –

Simpati adalah kebalikan dari empati, di mana orang bisa hanyut merasakan kesedihan dan perasaan si penderita, sehingga dia tidak bisa memetakan kondisi secara jelas. Perasaan simpati mengedepankan emosionalitas yang tinggi, sehingga kemampuan nalarnya untuk mencari jalan keluar sangat terbatas. Orang yang mengandalkan rasa simpati juga memiliki kemampuan toleransi yang sangat rendah.

Sejatinya kombinasi simpati dan empati yang bisa dijadikan landasan untuk memberikan penilaian moral terhadap sesuatu. Meskipun pada titik ini terdapat perbedaan pendapat baik itu dari teori nilai moral utilitarianism oleh Jeremy Bentham yang menganggap bahwa nilai moral yang tertinggi adalah nilai yang mampu memberikan manfaat yang paling besar bagi orang banyak.

Paham ini ditentang habis-habisan oleh John Stuart Mill dengan theory of moral value, yang mengatakan bahwa nilai moral yang paling tinggi adalah setiap manusia memiliki hak yang masing-masing harus dihargai.

Tentunya teori-teori di atas hanya bisa menjadi panduan nilai secara umum karena pada prinsipnya nilai-nilai moral itu terbentuk oleh banyak faktor. Faktor paling utama adalah lingkungan keluarga, sekolah, tetangga, dan pertemanan.

Orang yang mengidap fanatisme ibarat pasien sakit jiwa yang menderita kemampuan untuk membedakan yang baik dan salah. Secara psikologis mereka tidak memiliki kemampuan kognitif, mental, dan sosial yang cukup.

Meskipun Anda berusaha berdebat dengan fakta-fakta yang ada, mereka akan cenderung untuk mengabaikannya karena mereka memiliki dasar kebenaran yang mereka bentuk sendiri bukan pada konsep kebenaran yang disepakati secara umum.

Orang yang mengidap fanatisme ibarat pasien sakit jiwa yang menderita kemampuan untuk membedakan yang baik dan salah.

– –

Solusi

Tidak ada solusi yang instan untuk mengatasi fanatisme di olahraga. Apalagi menjelang Pilpres 2019, fanatisme agama dan politik seakan-akan menjadi suguhan tiap hari. Padahal kombinasi fanatisme agama dan politik jauh lebih berbahaya dari fanatisme olahraga.

Fanatisme olahraga hanya merusak beberapa orang, akan tetapi fanatisme politik dan agama yang tidak mengedepankan toleransi akan merusak seluruh bangsa. Ini hanya bisa dibenahi apabila kualitas pendidikan ditingkatkan tidak hanya secara kuantitatif tapi juga mengedepankan peningkatan nilai etika dan moralitas.

Dan yang paling penting, orang tua harus mampu menanamkan nilai-nilai moralitas yang tinggi sejak dini tanpa mengabaikan kemampuan nalar serta memberikan contoh buat anak-anak mereka.

Seperti misalnya ketika orang tua melarang anaknya untuk berbuat sesuatu sebaiknya orang tua memberikan penjelasan yang mampu mereka cerna secara nalar. Sehingga anak pun dibekali dengan kemampuan menimbang konsekuensi dari perbuatan mereka di kemudian hari. Dengan demikian, pola pikir dan kemampuan kognitif anak akan terlatih untuk lebih berpikir rasional ketimbang emosional.