Dana Asing Dan Pelemahan Rupiah

Ilustrasi, Photo: Foto/SINDOnews

Pelemahan Rupiah belakangan ini, tidak bisa dipisahkan dari pengaruh keluarnya dana asing dipasar domestik Indonesia (capital outflow). Ini menyebabkan nilai tukar Rupiah terhadap dolar jadi sempoyongan, sehingga Bank Indonesia harus mengambil langkah kebijakan moneter untuk menaikkan suku bunga dua kali dalam sebulan, yang sebelumnya berada pada basis 4.50% ke angka 4.75%.

Bank Indonesia melalui konfrensi pers yang dilaksanakan pada 31 Mei 2018, menyatakan bahwa kaburnya dana asing keluar negeri ini disebabkan karena beberapa faktor termasuk perubahan kebijakan di Amerika Serikat yang memberikan pengaruh ke beberapa seluruh negara baik itu negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah membaiknya kondisi perekonomian dan meningkatnya inflasi di Amerika Serikat akan mendorong kenaikan suku bunga (the federal funds rate) yang diperkirakan akan naik secara agresif 4 kali dalam di tahun 2018, yang menyebabkan kenaikan suku bunga dipasar keuangan.

Faktor lainnya terjadinya defisit fiskal di Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 4% ditahun 2018, dan 5% ditahun 2019. Kedua faktor ini memicu kenaikan yield US treasury bond dan penguatan mata uang dolar terhadap hampir seluruh mata uang dunia.

Faktor terakhir adalah faktor geopolitik regional dan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok yang menyebabkan ketidak pastian global yang meningkatkan resiko dipasar keuangan global.

Ketiga faktor ini memicu kenaikan suku bunga amerika, dan penguatan US dolar memicu pembalikan modal asing (capital outflow) serta memberikan tekanan pada pasar keuangan di negara maju, emerging market, termasuk Indonesia baik dalam bentuk pernurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi dan melemahnya nilai tukar terhadap dolar US.

Meskipun begitu Bank Indonesia yakin bahwa kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan cukup baik dan solid terbukti dengan inflasi yang rendah disekitar 3.5%, dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, serta meningkatnya investasi baik dibidang bangunan dan non-bangunan, serta desifit transaksi berjalan yang membaik yang diperkirakan untuk 2018 akan berada dibawah 2.5% dari PDB jauh dibawah threshold yang aman yaitu 3% dari PDB. Stabilitas keuangan juga membaik, didukung oleh penyaluran kredit yang mulai membalik.

Lampu Kuning atau Lampu Merah?

Sebenarnya ketidak pastian kondisi dipasar keuangan ini sudah bisa diperkirakan terlebih lagi sifat dari pasar keuangan sangatlah oportunistis sehingga tujuan utamanya melihat dimana tempat yang bisa membawa keuntungan sebesar-besarnya. Meskipun melemahnya beberapa negara emerging market, seperti Indonesia, India, Turki, Rusia, Phillipines dan Hungria. Kaburnya dana asing ini tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi asal dari penguatan mata uang dolar sendiri yaitu di US, akan tetapi juga disebabkan oleh kondisi internal (regional/nasional) dinegara tersebut termasuk kondisi ketidak stabilan politik di Turki, Argentina dan negara lainnya termasuk Indonesia yang sedang memasuki tahun-tahun politik yang rentan dengan konflik politik dan perubahan kebijakan yang menyebabkan ketidak pastian pasar.

Disamping itu negara yang akan terdampak paling besar dari kaburnya dana asing ini adalah negara-negara yang memiliki ketergantungan besar terhadap mata uang dolar dan mata uang lainnya untuk membiayai defisit neraca perdagangan mereka serta negara yang kepemilikan asing terhadap surat utang negara dalam bentuk dolar sangat tinggi termasuk Afrika Selatan, Indonesia dan Rusia.

Untuk Indonesia sendiri pelemahan Rupiah bukanlah sesuatu yang baru. Depresiasi mata uang Rupiah sudah berlansung puluhan tahun, bahkansejak dimasa pemerintahan Presiden Suharto dimana pada tahun 1971 dari Rp378/dolar sampai sekarang sudah ada diangka Rp14.125/dolar sudah naik 3637%. Dalam 5 tahun (2013-2018) ini saja Rupiah sudah melemah 43%.

Itu berarti pelemahan Rupiah bukanlan hal yang baru dan seharusnya sudah menjadi lampu merah buah pemerintah, karena trendnya memang selalu melemah dari tahun ke tahun tanpa ada penguatan nilai tukar yang signifikan. Kalau tidak ada perubahan langkah strategis jangka panjang untuk meningkatkan produksi dan ekspor, hampir bisa dipastikan Rupiah akan terus tergerus dari tahun ke tahun.