Butuh 133 Tahun Bagi Indonesia Jadi Raksasa Ekonomi Dunia

Illustrasi (Photo: REUTERS/Darren Whiteside)

Data dari World Bank pada tahun 1967, perekonomian dunia dikuasai oleh Amerika Serikat dengan total Gross Domestic Product (GDP) USD 861 miliar, disusul oleh Jepang di urutan kedua dengan total GDP USD 124 miliar. Sedangkan China berada pada urutan keenam dengan total GDP USD 72,8 mmiliar. Sementara Indonesia berada diposisi ke-16 dengan GDP sebesar USD 5,6 miliar dan ini kali pertamanya Indonesia dimasukkan sebagai 20 besar ekonomi dunia.

Akan tetapi jarak antara GDP Amerika Serikat dan Indonesia pada saat itu, masih sangat jauh, yakni sebesar 15.000 persen. 50 tahun kemudian jarak tersebut mengecil menjadi 1.800 persen di tahun 2017. Itu berarti Indonesia berhasil mengejar jarak GDP Amerika Serikat rata-rata 264 persen per tahun.

Tentunya analisa data ini tidak sepenuhnya benar karena kalau berdasarkan data dari World Bank, pertumbuhan GDP Indonesia mulai menunjukkan lonjakan berarti pada tahun 2003 sampai sekarang. GDP bisa dijadikan rujukan untuk prestasi ekonomi suatu negara, tapi harus diselaraskan dengan jumlah pertumbuhan penduduk (lihat pada Grafik 1). Sejatinya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas harus jauh lebih cepat dari pertumbuhan angka penduduk.

Grafik 1. Pertumbuhan GDP dan Penduduk Indonesia (1967-2017) (Data diolah dari World Bank)

Waktu yang dibutuhkan

Pertanyaannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk bisa menyamai nilai GDP Amerika Serikat saat ini dianggap sebagai raksasa ekonomi dunia. Dalam ilmu ekonomi ada cara yang dikenal dengan the rule of 70. Secara sederhana the rule of 70adalah metodologi yang digunakan untuk mengukur waktu yang dibutuhkan ‘sesuatu atau aset’ bernilai ganda dalam kurung waktu tertentu.

Kalau teori ini diaplikasikan dengan kondisi perekonomian Indonesia sekarang dengan pertumbuhan ekonomi 5,06 persen, maka waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk memiliki GDP yang bernilai dua kali lipat (double GDP) adalah 14 tahun.

GDP Indonesia diperkirakan akan berjumlah USD 2.023 triliun pada tahun 2031, tentunya masih sangat jauh dari GDP Amerika Serikat yang sekarang saja, berjumlah USD 19.300 triliun. Indonesia akan bisa setara dengan GDP Amerika Serikat dalam kurung waktu 133 tahun untuk bisa menyamai jumlah GDP mereka saat ini.

Kecuali, Indonesia mampu meningkatkan pertumbuhan rata-rata GDP sebesar 20 persen per tahun, maka waktu yang dibutuhkan hanyalah 33 tahun. Ini bukan hal yang mustahil kalau kita melihat negara dengan pertumbuhan tertinggi di dunia sekarang ini adalah Libya dengan pertubuhan GDP sebesar 26,7 persen.

Berdasarkan laporan dari Nikkei Asian Review, Indonesia sendiri membutuhkan 60 persentambahan GDP untuk masuk ke 10 besar ekonomi dunia. Itu berarti Indonesia membutuhkan tambahan penghasilan sebesar USD 610 triliun per tahun.

Mari Belajar ke Ekonomi Korea Selatan dan China

Grafik 2. Pertambahan GDP Selama hampir 50 tahun (Data diolah dari WorldBank)

Kalau kita melihat data pertumbuhan GDP dari negara-negara 20 besar ekonomi dunia (lihat grafik 2). Korea dan China adalah negara dengan performa pertumbuhan ekonomi yang paling baik.

Dalam kurung waktu 50 tahun, Korea Selatan mampu meningkatkan GDP-nya sebesar 25.023 persen dari USD 4,8 miliar ke USD 1530 triliun. Sedangkan China mampu menaikkan performa ekonominya sebesar 17.200 persen dari USD 73 miliar ke USD 12.200 triliun dalam kurung waktu hampir 50 tahun.

China membutuhkan tambahan sekitar USD 7.100 triliun untuk bisa menyamai ekonomi Amerika Serikat. Dengan pertumbuhan ekonomi China sekarang ini sekitar 7 persen, mereka akan mampu menyusul perekonomian Amerika Serikat dalam kurung waktu 6 tahun. Kalau China mampu menaikkan pertumbuhan ekonominya sebesar 10 persen per tahun maka waktu yang dibutuhkan cuma 4 tahun.

Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa sangat tepat kita berkiblat dan belajar dari pola pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di kedua negara tersebut. Mengingat, Korea Selatan pada tahun 1960-an jauh lebih miskin dari Indonesia akan tetapi mampu membangun ekonominya dengan sangat cemerlang.

Kedua negara tersebut masing-masing bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang menitik beratkan pada produksi barang dan jasa yang memiliki nilai tambah yang besar (added value) dan berorientasi ekspor. Ini sangat berbeda dengan perekonomian Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi domestik.

Kebijakan yang ditempuh

Pertumbuhan ekonomi yang berorientasi ekspor dianggap sebagai sumber pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia. Pendekatan konsep dan teori ini didukung oleh para ekonom terbaik dunia, mulai dari Adam Smith sampai ke Paul Krugman.

Inti dari ekonomi yang berorientasi pasar internasional adalah dengan menemukan potensi yang bisa dijadikan nilai tambah yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Dalam konsep pertumbuhan yang berorientasi pada perdagangan internasional, negara tidak dituntut untuk memproduksi semua barang kebutuhannya, akan tetapi negara dituntut untuk menemukan model yang tepat untuk membangun competitive advantagedari negara tersebut.

Ini tidak berarti bahwa keran ekonomi dibuka seluas-luasnya untuk pasar internasional. Akan tetapi lebih pada peran aktif pemerintah untuk menemukan pola hubungan yang tepat antara perusahaan, industri, institusi pasar, dan konsumen.

Michael Porter memperkenalkan model ini dengan sebutan Competitive Advantage of Nations. Ide ini bukan hal baru, tapi sudah pernah didengungkan oleh David Ricardo yang juga dikenal dengan persepsi Ricardian. Ide Ricardian ini juga asam muasalnya dari konsep absolute advantage oleh Adam Smith.

Negara-negara yang berusaha untuk mandiri di segala sektor akan berakhir pada kegagalan ekonomi. Contoh paling nyata adalah usaha Arab Saudi, yang berusaha memenuhi konsumsi gandum nasional dengan menanam gandum sendiri.

Proyek ini kemudian dibatalkan ditahun 2008, setelah 30 tahun berusaha untuk dikembangkan tetapi gagal. Hal ini dikarenakan biaya yang diperlukan untuk memasok air ke tanaman gandum lebih besar dari produksi yang dihasilkan. Pemerintah Arab Saudi kemudian mengambil keputusan untuk bergantung sepenuhnya pada impor gandum di tahun 2016.

Nasionalisme Berlebihan

Oleh karena ini sangat penting bagi pemerintah agar tidak terjebak pada nasionalisme ekonomi yang teramat berlebihan. Apalagi menjelang Pilpres 2019, nasionalisme ekonomi akan tetap menjadi dagangan politik yang menarik. Sedangkan konsep neoliberalisme ekonomi seakan-akan menjadi momok yang selalu mengancam perekonomian Indonesia.

Pada faktanya tidak ada satu negara pun di dunia yang mampu membangun perekonomiannya secara tertutup. Intinya adalah pemerintah harus membangun ruang-ruang di mana sektor swasta nasional dan pengusaha kecil menengah agar bisa berkembang.

Di samping itu, BUMN yang tidak produktif sebaiknya diberikan pada pelaku profesional. Sementara BUMN yang sukses dibiarkan untuk berkembang dengan sistem insentif dan punishment yang jelas.

Dan paling penting adalah investasi yang besar pada sektor pendidikan. Korea selatan dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, dengan konsentrasi yang diutamakan pada bidang studi matematika, fisika dan sains. Sedangkan China berada pada urutan kelima terbaik di dunia dengan strategi yang hampir sama dengan Korea Selatan.

Pola kebijakan yang diterapkan di kedua negara baik itu China dan Korea Selatan sudah terbukti cukup ampuh untuk menjadikan negara tersebut menjadi negara yang memiliki pertumbuhan yang sangat cepat di dunia. Dengan demikian sudah sewajarnya kita berkaca dan banyak belajar dari kedua negara tersebut.

———————————————————

Analisis oleh Doctoral Researcher Asmiati MalikUniversity of Birmingham. United Kingdom.